
"sabar itu tidak berarti ada batasnya, kata orang sabar ada batasnya, tapi kalau buat saya nggak, sekalipun kita ngerasain beratnya hidup kaya' gimana, kita nggak cukup hanya sabar, mungkin harus lebih dari sabar lagi,. Saya Percaya Allah maha mengasihi" Ungkap Bu Sumina...
Bertemu dengan sosok sederhana yang tabah dan kuat dalam hidup, pasti akan memberikan kesan tersendiri. apalagi jika mendengar keseharian dan perjuangannya dalam menjadi tulang punggung keluarga. itulah bu sumina, seorang ibu yang memilih profesi tukang parkir sebagai penyangga periuk nasi keluarganya. Kata kata dan nasehat yang sederhana namun dalam dan penuh makna, disuguhkan sebagai hasil dari pengalamannya yang jelas jelas sangat fasih dengan hal yang bernama kemiskinan. Namun, Subhanallah, kesemua itu tidaklah mengubah pendiriannya untuk tetap berada pada jalan yang lurus. " Dulu saya pernah ditawari menjadi PSK, banyak yang menawari saya, tapi saya tidak mau. Saya masih punya malu sama Allah. Saya memang tidak punya kemampuan seperti orang yang pintar lainnya, bisa saya hanya ini. ya saya lakukan, yang penting anak anak bisa sekolah" Ujar ibu yang sudah hampir 8 tahun menjadi tukang parkir ini. Keteguhan dan keikhlasannya pun tidak hanya sampai disitu, Bu Sumina yang mengaku masih banyak kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan masih "menyempatkan" diri untuk mengasuh anak anak yang kurang beruntung. " Seumpama ada anak teman saya yang datang kerumah, atau anak yatim yang mampir, ya mereka saya anggap anak saya sendiri. Ra sah di gawe beban ( tidak usah di buat beban ), yang ada ya dimakan bareng bareng, kalau nggak ada ya saya bilang apa adanya" Jelasnya. Selain itu, walau dengan profesi yang dia jalankan saat ini, dia tidak segan-segan mendidik dirinya untuk tetap menjadi wanita yang patuh pada aturan Allah untuk menutup aurat " Saya putuskan untuk pakai kerudung. Saya kok merasa tenang begitu, nanti kalau orang mau pegang-pegang saya, karena saya pakai kerudung, pasti mereka tidak jadi dan malah akan malu sendiri. ini menjaga saya" Demikian ujarnya Jika ada yang bertanya, apakah tidak ada profesi yang lain yang bisa dipilih sebagai mana pantasnya wanita? atau apakah suaminya tidak menafkahinya?, Maka garis takdir Bu Sumina menjelaskan bahwa seseorang akan selalu diberi cobaan dari manapun datangnya, termasuk dari suami dan anak. Bu sumina adalah perempuan yang telah menunggu datangnya kehadiran buah hati selama hampir 8 tahun, dan cobaan ke keduanya adalah berasal dari suaminya, yang akhirnya memaksa dia untuk menjadi tulang punggung keluarga." kalau memang bapaknya tidak sanggup membiayai kehidupan sehari- hari,ya memang berat, ya udah ndak papa, saya ikhlas, yang kerja saya" jelasnya Memang hidup tidak selalunya lurus dan indah, namun hal inilah yang justru mendidiknya menjadi pribadi yang ikhlas dan sabar. "sabar itu tidak berarti ada batasnya, kata orang sabar ada batasnya, tapi kalau buat saya nggak, sekalipun kita ngerasain beratnya hidup kaya' gimana, kita nggak cukup hanya sabar, mungkin harus lebih dari sabar lagi" kata wanita yang bekerja dari pagi jam 7 pagi sampai setengah sembilan malam ini. Kesabaran itu juga terwujud dari kesederhanaan sikap saat seringkali menerima tuduhan pencurian saat ada suatu barang yang hilang selama memarkirkan kendaraan. " Disabari saja mbak, wong saya ndak tahu sama sekali, demi Allah saya bentuk barangnya saja tidak lihat." katanya sambil sesekali mengingat kejadian yang sering kali menimpanya di area kerja. Sebuah pelajaran hidup tentang sabar dan ikhlasnya seorang wanita telah diperlihatkan oleh Bu Sumina. Sama sekali tiada keluh kesah saat menggantikan posisi suami dengan memikul tanggung jawab keluarga " Siapa wanita yang mau menjadi seperti saya, pasti ndak ada, tapi ini saya lakukan demi keluarga, saya percaya Allah maha mengasihi. Allah pasti tahu niat saya baik, dan hal yang baik selalu akan dibalas Allah dengan kebaikan" Ungkapnya dengan yakin
(Syahidah/voa-islam.com)
Share this post..

jika seseorang memaafkan perilaku negatif pasangannya tanpa berbicara terlebih dulu tentang hal itu, maka pengampunan tersebut tidak ada artinya....
Sebuah studi yang dilakukan profesor asosiasi psikologi University of Tennessee, James McNulty, menemukan bahwa pasangan yang dimaafkan atas tingkah laku negatifnya cenderung untuk mengulangi perbuatan yang sama. Dalam penelitian terhadap 135 pasangan yang baru menikah, mereka diminta menyimpan diari berisi interaksi dengan pasangannya. Diari tersebut merekam jika pasangan mereka melakukan sesuatu yang negatif, dan apakah mereka memaafkannya atas tingkah laku tersebut. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan di Journal of Family Psychology, ditemukan bahwa individu yang memaafkan pasangan mereka nyaris 2 kali melaporkan bahwa pasangan mereka mengulang tingkah laku yang sama di hari berikutnya, dibandingkan mereka yang menyimpan dendam. ''Ada satu penjelasan yang masuk akal. Pengampunan memungkinan pasangan yang relatif negatif untuk melanjutkan perilaku negatif mereka, sehingga akhirnya merusak hubungan,'' jelas McNulty seperti dikutip situs rd.com. Tapi, bukan berarti orang selamanya tidak boleh memaafkan pasangan mereka, jelas terapis keluarga Kay Francis. Sebaliknya, orang harus mengonfrontasi perilaku negatif dan menangani penyebab atau motivasi di baliknya, sebelum memaafkan pasangan mereka. Francis mengingatkan, jika seseorang memaafkan perilaku negatif pasangannya tanpa berbicara terlebih dulu tentang hal itu, maka pengampunan tersebut tidak ada artinya. (sydh/MI)
Share this post..

Menggelari orang-orang tertentu sebagai "syahid" apakah dibolehkan? Karena akhri-akhir ini sematan "syahid" begitu mudah diberikan, seperti kepada korban kerusuhan di Mesir dan 3 korban Ahmadiyah. . ....
Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Penyandangan gelar syahid kepada orang tertentu dianggap sebagai bentuk pemastian bahwa dia sebagai ahli surga. Karena tidak ada tempat bagi orang yang benar-benar syahid kecuali surga. Sedangkan prinsip akidah Ahlussunnah, tidak mempersaksikan bahwa seseorang termasuk penghuni al-Jannah (surga) kecuali bagi orang yang memang telah dipersaksikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia adalah penghuni jannah, baik itu persaksian dengan menyebutkan sifat secara umum maupun persaksian terhadap individu tertentu.
Namun, sering gelar-gelar dan predikat tersebut disandangkan kepada perorangan tertentu dan dipastikan statusnya hanya karena dia terlihat terbunuh di medan perang, menjadi korban dalam aksi demonstrasi seperti di Mesir, atau tewas dalam sebuah aksi seperti 3 orang warga Ahmadiyah yang tewas dalam kerusuhan di Cikeusik, Pandeglang, Banten, Ahad 6 Februari 2011 lalu. (Lihat selengkapnya tentang kontroversi syahid 3 jemaat Ahmadiyah: 3 Korban Tewas Ahmadiyah Su'ul Khatimah, Ini Dalilnya!)
Syaikh Khalid bin Abdillah al-Mushlih dalam Islamway.com menjawab pertanyaan tentang pemberian gelar syahid kepada orang yang terbunuh dalam peperangan dan aksi intifadhah, boleh ataukah tidak? Lalu beliau menjawab bahwa pendapat jama’ah ulama, tidak boleh seseorang digelari (dipastikan) bahwa dia syahid walaupun nampak tanda-tanda kesyahidan secara dzahir. Karena syahid sangat bergantung dengan niat dan tujuan seseorang dalam amal tersebut, dan tidak ada jalan mengetahuinya dengan pasti kecuali melalui kabar wahyu.
. . . Karena syahid sangat bergantung dengan nait dan tujuan seseorang dalam amal tersebut, dan tidak ada jalan mengetahuinya dengan pasti kecuali melalui kabar wahyu.
Inilah dzahir pendapat Imam al-Bukhari rahimahullaah yang menyebutkan dalam kitabnya, “Bab Laa Yuqaalu Fulan Syahid, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Allah lebih tahu siapa yang berjihad di jalan-Nya, Allah lebih tahu siapa yang terluka di jalan-Nya.”
Larangan ini dikuatkan oleh riwayat Muslim, dari hadits Ibnu Abbas, ia berkata: Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu menyampaikan kepadaku, ia berkata: “Pada saat hari Khaibar, ada beberapa sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menghadap dan berkata, “Si Fulan Syahid, Si fulan Syahid,” sehingga mereka melewati seseorang dan mereka berkata: “Si fulan syahid.” Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
كَلَّا إِنِّي رَأَيْتُهُ فِي النَّارِ فِي بُرْدَةٍ غَلَّهَا أَوْ عَبَاءَةٍ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ اذْهَبْ فَنَادِ فِي النَّاسِ أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ قَالَ فَخَرَجْتُ فَنَادَيْتُ أَلَا إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ
“Sekali-kali tidak! Sungguh saya melihatnya berada di neraka satu kain burdah atau ‘aba-ah yang ditilepnya.” Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ibnu Khatab, sampaikan kepada manusia bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang-orang beriman.” Umar berkata: “Lalu aku keluar dan menyampaikan, “Ketahuilah, sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang beriman”.” (HR. Muslim)
Hadits lain yang menguatkannya adalah yang dikeluarkan Imam Ahmad dari hadits Umar bin Khathab saat beliau berkhutbah, beliau radhiyallahu 'anhu berkata,
تَقُولُونَ فِي مَغَازِيكُمْ فُلَانٌ شَهِيدٌ وَمَاتَ فَلَانٌ شَهِيدًا وَلَعَلَّهُ قَدْ يَكُونُ قَدْ أَوْقَرَ رَاحِلَتَهُ أَلَا لَا تَقُولُوا ذَلِكُمْ وَلَكِنْ قُولُوا كَمَا قَالَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " مَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ قُتِلَ فَهُوَ شَهِيدٌ
"Kalian mengatakan dalam peperangan yang kalian ikuti bahwa fulan telah syahid, kalian juga mengatakan fulan meninggal sebagai syahid, padahal bisa jadi ia berbuat curang ketika berjihad. Janganlah kalian mengucapkan hal itu, namun katakanlah sebagaimana sabda Rasulullah, ”Barangsiapa yang wafat atau terbunuh ketika berjihad di jalan Allah, maka dia syahid”.” (HR. Ahmad no. 342 dan dihassankan Ibnul Hajar dalam al-Fath : 6/90, dari jalur Abul ‘Ajfa’)
Ada juga beberapa ulama yang berpendapat bolehnya menyematkan gelar “Syahid” kepada orang yang melaksanakan sebab yang menghantarkan kepada kesyahidan secara dzahir, kecuali jika nampak sesuatu yang menghalangi dari disematkannya sifat tersebut seperti berbuat curang (menilep) ghanimah. Karena prosedur ini sesuai dengan ketentuan hukum di dunia yang dilihat dari dzahirnya. Sedangkan gelar-gelar syar’i ini disematkan kepada seseorang sebatas dzahirnya. Adapun yang berlaku dengan hukum di akhrirat, maka ilmunya ada pada Allah Ta’ala.
Bukti yang menguatkannya adalah pengakuan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terhadap para sahabatnya radhiyallahu 'anhum saat mengatakan; “Fulan syahid” karena sesuai dengan kondisi dzahir dari para korban tersebut. Maka ketika mereka mengatakannya (menyematkan gelar itu) kepada orang yang tidak layak karena pada dirinya ada sesuatu yang menghalangi, maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam meniadakan dan mengingkarinya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sekali-kali tidak! Sungguh saya melihatnya berada di neraka satu burdah atau ‘aba-ah yang ditilepnya.” Dan inilah yang nampak dari perkataan Umar radhiyallahu 'anhu ketika mengingkari gelar tersebut karena adanya penghalang untuk disematkan gelar syahid kepada seseorang.
Maka, tidak apa-apa mengatakan “dia syahid,” kepada seseorang yang melaksanakan satu sebab dari sebab-sebab kesyahidan, sesuai dengan kondisi dzahirnya . . .
Maka, tidak apa-apa mengatakan “dia syahid,” kepada seseorang yang melaksanakan satu sebab dari sebab-sebab kesyahidan, sesuai dengan kondisi dzahirnya, -dan Allah-lah yang Mahatahu tentang hal-hal yang bersifat rahasia-. Dan satu hal perlu diingat, bahwa tidak boleh menyematkan nama syar’i ini kepada orang yang melaksanakan sebab kesyahidan tapi juga mengerjakan sesuatu yang menghalanginya dari mendapatkan kesyahidan. Apalagi gelar ini diberikan kepada orang yang tidak melakukan upaya yang menghantarkan kepada kesyahidan, maka lebih tidak layak lagi. Wallahu Ta’ala a’lam. [PurWD/voa-islam]
Tulisan Terkait:
- 3 Korban Tewas Ahmadiyah Su'ul Khatimah, Ini Dalilnya!
- Ahmadiyah Murtad & Dimusuhi Karena Ajarkan Ada Nabi Lagi Sesudah Muhammad
- Korban Tewas Jemaat Ahmadiyah Bukan Syahid Karena Tidak di Jalan Allah
- Jika Para Syuhada Tidak Mati, di Manakah Arwah Mereka?
Share this post..
Ada Gua Raksasa di Permukaan Bulan
Editor: Tri Wahono Rabu, 2 Maret 2011 | 23:22 WIB KOMPAS.com - Organisasi peneliti ruang angkasa dari India menemukan gua bawah tanah berukuran besar di dekat ekuator Bulan. Gua raksasa yang ditemukan pesawat luar angkasa Chandrayaan-1 ini memiliki... Ada Gua Raksasa di Permukaan Bulan
Editor: Tri Wahono Rabu, 2 Maret 2011 | 23:22 WIB KOMPAS.com - Organisasi peneliti ruang angkasa dari India menemukan gua bawah tanah berukuran besar di dekat ekuator Bulan. Gua raksasa yang ditemukan pesawat luar angkasa Chandrayaan-1 ini memiliki panjang lebih dari 1,7 kilometer dan lebar 120 meter. Para peneliti India mengutarakan kemungkinan penggunaan gua ini sebagai tempat manusia di masa yang akan datang. Gua tersebut dapat digunakan sebagai tempat perlindungan dari radiasi, tabrakan meteor kecil, debu, dan perubahan temperatur yang ekstrem karena perubahan struktur lava. Para ilmuwan juga menunjukkan kalau gua itu hanya butuh sedikit konstruksi dan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pembuatan tameng khusus untuk menghadapi lingkungan bulan. Temuan ini merupakan temuan gua lainnya di Bulan. Pada tahun 2009, badan antariksa Jepang JAXA mengumumkan temuan lubang di bulan yang cukup besar untuk ditempati manusia. Gua temuan JAZA ini berukuran 65 meter dan memiliki dalam 88 meter. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu) Sumber :  Kirim Komentar Anda
JAKARTA--Meski sudah ada peraturan pemerintah tentang disiplin pegawai, tidak lantas membuat efek jera para PNS. Deputi SDM Bidang Aparatur Kementerian Pendayagunaan Apatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN&RB) Ramli Naibaho mengungkapkan, kasus pelanggaran...
JAKARTA--Meski sudah ada peraturan pemerintah tentang disiplin pegawai, tidak lantas membuat efek jera para PNS. Deputi SDM Bidang Aparatur Kementerian Pendayagunaan Apatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN&RB) Ramli Naibaho mengungkapkan, kasus pelanggaran disiplin PNS masih tetap saja terjadi. Meski jumlahnya dari tahun mulai menurun.
Dia menyebut, pelanggaran yang paling banyak dilakukan adalah selingkuh, korupsi, narkoba, dan bolos. "PNS, TNI/Polri dilarang keras selingkuh, main uang, apalagi sampai memakai narkoba. Semua pelanggaran itu termasuk kategori pelanggaran berat," tegas Ramli saat dihubungi, Kamis (3/3).
Meski termasuk pelanggaran berat, namun untuk kasus selingkuh, korupsi, absensi, PNS bisa mengajukan banding ke Badan Pengawas Kepegawaian (Bapek). Sedangkan kasus narkoba, peluang banding tertutup. "Untuk kasus narkoba tidak ada ampun. Tidak ada proses banding dan peninjauan kembali," ucapnya.
Dia membeberkan data laporan kasus pelanggaran PNS (selingkuh, korupsi, narkoba, absensi), yakni pada 2008-2009 sebanyak 500. Jumlah ini menurun menjadi 275 kasus pada 2010. Dari laporan yang masuk tersebut, ada 279 kasus (periode 2010-Januari 2011) telah diajukan ke proses banding Bapek karena diberhentikan.
"Ada sebagian kecil yang sudah ditanggapi. Contohnya, dia korupsi atas perintah atasan, sehingga dia tidak layak dipecat dan hanya diturunkan pangkatnya. Kalau kasus narkoba tidak ada ampunnya," tandasnya. (esy/jpnn)
|