anak
Cara memberikan Hukuman Dan Penghargaan Kepada Anak Jangan cuma memberikan hukuman pada anak, karena anak juga butuh penghargaan. Memberikan hukuman dan penghargaan kepada anak dipercaya akan membentuk jati diri mereka di masa depan....
Cara memberikan Hukuman Dan Penghargaan Kepada Anak

Jangan cuma memberikan hukuman pada anak, karena anak juga butuh penghargaan. Memberikan hukuman dan penghargaan kepada anak dipercaya akan membentuk jati diri mereka di masa depan.

Jika dilakukan dengan tepat, akan mengurangi frekuensi perilaku yang tidak diinginkan. Reward and Punishment atau penghargaan dan hukuman harus diberikan secara berimbang.

Penghargaan berupa pujian harus diberikan dengan tepat. Namun anak juga harus mengerti konsep: kalau benar dia mendapat penghargaan, sedang kalau salah dia harus mendapat teguran atau hukuman.

Penghargaan

Psikolog Laura Ramirez, dalam buku Walk In Peace, mengatakan anak berhak mendapatkan penghargaan atas perbuatan baik atau yang diharapkan baik.

Penghargaan ada yang bersifat materil (berupa benda atau makanan), sosial (dipuji, dipeluk, atau dicium) dan kesempatan lebih (nonton tv lebih lama, tidur dengan orang tua, atau rekreasi ke tempat yang diinginkannya). Dari semua itu, hadiah yang bersifat sosial yang paling praktis.

Namun, orang tua jangan asal memberi penghargaan. Penghargaan harus dibarengi pemberian tanggung jawab yang lebih kompleks.

Anak yang terlalu sering mendapat hadiah berisiko kehilangan motivasi untuk mencoba melakukan hal lain. Dalam jangka  panjang ia akan tumbuh menjadi pribadi manja, kurang tangguh, kurang kreatif, kurang memiliki rasa bersalah, dan kurang berprestasi.

Sebaliknya anak yang jarang menerima penghargaan tidak pernah tahu bahwa dirinya telah melakukan hal-hal yang positif. Dalam jangka panjang ia akan tumbuh dengan kurang percaya diri, depresif, sering kecewa, sulit berinteraksi, mudah sedih, dan sensitif.

Hukuman

Selain memberikan penghargaan, orangtua juga jangan lupa untuk menerapkan pemberian hukuman jika anak berbuat salah, melanggar aturan, atau menyalahi kesepakatan dengan orangtua.

Namun, orangtua juga sebaiknya ingat bahwa undang-undang perlindungan anak memberikan batasan dalam pemberian hukuman kepada anak. Jika orang tua terlalu keras menghukum, mereka dapat dituntut melanggar hak asasi anak.

Menurut Justine Mol penulis Growing Up in Trust hukuman yang paling tepat dan mudah adalah teguran dengan lembut. Beri contoh apa yang seharusnya dilakukan anak. Jadi anak tidak hanya merasa disalahkan, tapi juga diberitahu bagaimana seharusnya yang benar. Bentuk hukuman lain yang tepat adalah berupa timeout dan konsekuensi.

Psikolog Ike R. Sugianto, Psi mengatakan ada beberapa prinsip yang harus dipahami orangtua dalam memberikan penghargaan dan hukuman pada anak.

Penghargaan

   1. Berikan penghargaan jika aktivitas anak positif agar menjadi stimulusnya
   2. Sesuaikan dengan perjuangan yang dilakukan anak, jangan berlebihan
   3. Berikan hadiah atau penghargaan dengan penuh ketulusan dan bukan basa basi
   4. Setiap memberi hadiah yang bersifat materiil barengi dengan hadiah sosial

Hukuman

   1. Perhatikan kondisi psikologis anak agar anak tetap merasakan kasih sayang orangtuanya lewat hukuman
   2. Pahamilah bahwa hukuman bagi anak yang satu bisa jadi berbeda bagi anak yang lain
   3. Orangtua harus konsisten agar anak yakin dengan maksud hukuman
   4. Beri hukuman serealistis mungkin agar anak paham kesalahannya dan tidak punya standar ganda

(sydh/dtc)

Share this post..

Selanjutnya

 
Apakah Anda Terlalu Keras Pada Si Buah Hati? Pola pengasuhan yang terlalu ketat diketahui akan mengancam kondisi kejiwaan anak. Cari tahu apa saja isyarat pada orangtua yang menegakkan aturan dengan keras dan bagaimana mengatasinya dalam artikel berikut....
Apakah Anda Terlalu Keras Pada Si Buah Hati?

Jika balita empat tahun Anda berlaku nakal dan tidak sopan di meja makan, apa yang Anda lakukan? Langsung membersihkan mulutnya dan membawanya keluar atau didiamkan saja?

Bagaimana dengan anak SD Anda yang kurang berprestasi di sekolah dan malas mengerjakan pekerjaan rumah (PR), apakah Anda segera melarangnya untuk bermain? Apa pula yang Anda lakukan ketika mendapati anak remaja Anda mulai menentang adanya jam malam?

Penerapan disiplin memang merupakan sebuah dilema bagi semua orangtua. Lalu, bagaimana Anda bisa tahu jika teknik penanaman disiplin Anda sangat keras atau malah terlalu santai? D

Banyak orangtua yang bertanya-tanya, apakah pola pengasuhan tersebut terlalu ketat atau malah mungkin lebih toleran saat mengajarkan disiplin kepada anak-anak sendiri, dan apa efek yang akan timbul saat mereka dewasa.

Penerapan disiplin yang terlalu keras atau otoriter berisiko merusak jiwa anak-anak. “Anak ingin berlaku menyenangkan, tetapi dia khawatir tentang persetujuan orangtua sehingga dia akan menjadi anak yang suka gelisah dan ragu-ragu,” ujar Elizabeth J Short PhD, seorang profesor psikologi dan direktur di Schubert Center, Case Western Reserve, University in Cleveland,.

“Atau kadang-kadang, dia tahu bahwa tidak ada cara buat lari dari aturan yang telah Anda tentukan sehingga mereka bahkan tidak mencoba,” lanjut Short seperti dikutip laman webmd.com.

Berikut dipaparkan beberapa tanda bahwa Anda terlalu otoriter dengan anak-anak Anda dan apa yang dapat Anda lakukan untuk mengatasinya. Pertama, Anda menetapkan aturan terlalu banyak.

“Ini adalah tanda bahwa Anda terlalu keras untuk setiap orang. Jika Anda menetapkan aturan begitu banyak, bukan berarti Anda menerapkannya ke setiap orang,” kata Nancy Darling PhD, profesor bidang psikologi di Oberlin College, Oberlin, Ohio.

Sebaliknya, terapkan aturan dalam jumlah yang lebih sedikit dan tegakkan hal tersebut secara konsekuen. “Tindak lanjut itu sangat penting,” terangnya.

Tanda berikutnya adalah ancaman Anda terlalu berlebihan. Mengatakan ”Ibu akan membuang semua mainan kamu” atau “mengusir kamu ke luar rumah” tidak akan efektif, apabila dia menjawabnya dengan “tidak apa-apa”. Pasti, Anda akan mengalah.

“Apa yang Anda lakukan adalah membuat semacam ancaman kosong dan mengajarkan anak Anda untuk berbuat jahat,” kata Darling. “Ini akan bermasalah ketika Anda tidak bisa mengalah dan tahu bahwa Anda telah melakukan sebuah kesalahan karena Anda bahkan tidak percaya pada apa yang Anda akan lakukan lagi,” lanjutnya.

Satu lagi tanda Anda terlalu keras adalah aturan tersebut melampaui batas-batas aturan orangtua Anda. “Orangtua dapat dan harus menetapkan aturan tentang bagaimana seorang anak berperilaku di sekolah, memperlakukan orang lain, dan masalah keselamatan,” ujar Darling.

Aturan terkait keamanan dan moral anak boleh-boleh saja, ujar dia.
“Kadang-kadang apa yang orangtua katakan tentang keselamatan atau moral, tetapi anak merasa itu urusan pribadi,” kata Darling.

“Katakanlah, ‘Ibu selalu sayang sama kamu, tapi Ibu mengharapkan kamu untuk berperilaku dengan cara ini’ atau ‘Ibu tahu kamu bisa melakukannya dengan lebih baik’,” kata Darling.

“Jangan mengatakan ‘Kamu salah jika tidak berperilaku seperti ini’. Perkataan seperti ini menyakitkan perasaan anak Anda,” imbuhnya.

Atau Anda juga tidak menyaring kata-kata yang Anda ucapkan. Ini bukan hanya bagaimana Anda mengatakannya, tetapi apa isi perkataan Anda. Bahkan jika nada bicara Anda bisa diukur,kata-kata menjadi masalah Anda.

“Berkata dengan suara tenang bisa mengungkapkan sesuatu hal yang lebih berarti,” ujar Darling.

“Isi itu lebih penting daripada bagaimana kata itu diucapkan,” lanjutnya.

Pengasuhan yang otoriter juga tidak menganggap sebuah kebersamaan.Ketika Anda menyuruh anak melakukan sesuatu yang sulit, lakukan kegiatan tersebut bersama dia, bukannya memerintahkan dia untuk melakukannya. Anda juga seperti seorang polisi, selalu mengomel, memantau, atau mengingatkan.

“Jika hal ini menjadi kegiatan andalan dari hubungan Anda dengan anak, lalu mengesampingkan hal-hal lain yang sebenarnya harus dilakukan sebagai orangtua, Anda mungkin mengasuh terlalu keras,” kata Ron Taffel PhD, psikolog anak berbasis di New York dan penulis beberapa buku tentang pengasuhan anak, termasuk Childhood Unbound.

Satu lagi isyarat bahwa pengasuhan Anda terlalu keras adalah Anak Anda pergi meninggalkan Anda. “Jika anak malas berbicara dengan Anda tentang halhal yang penting,ini bisa menjadi pertanda bahwa Anda terlalu ketat,” kata Taffel.

“Anda memenangkan pertempuran,tetapi kalah perang.Anda bisa menyuruh anak untuk melakukan hal-hal yang Anda sukai, tetapi mereka tidak akan terbuka tentang hal-hal yang membuat dia cemas atau gelisah,” imbuhnya.

(sydh/okz)

Share this post..

Selanjutnya

 
Mandiri Setelah Menikah Tak bisa 'lepas' dari orangtua, hanyalah satu dari sekian masalah rumahtangga yang terjadi. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa benar benar mandiri setelah menikah?...
Mandiri Setelah Menikah

Tak bisa ‘lepas’ dari orangtua, hanyalah satu dari sekian masalah rumahtangga yang terjadi. Salah satu pihak menganggap pasangannya belum mandiri karena masih sering bergantung banyak hal pada orangtua.

Bergantung dalam hal petunjuk dan bimbingan menjalani hidup tentu masih wajar. Namun bergantung dari segi finansial dan emosional tentulah tidak wajar, apalagi untuk jangka waktu panjang.

Serba-serbi Ketidakmandirian

Wujud kemandirian bukan hanya finansial, melainkan segala aspek kehidupan pasangan suami-istri. Banyak pasangan yang tetap bergantung pada orangtuanya dalam hal mengasuh, mendidik anak.

Suami memilih untuk bekerja, dan tanggung jawab mengasuh anak diserahkan kepada orangtua atau mertua. Biasanya sebagian besar pasangan memilih tinggal dengan orangtua atau dekat dengan orangtua karena alasan tersebut.

Ketergantungan atau ketidakmandirian lain yang acapkali terjadi adalah saat mengambil keputusan. Wanita sebagai ibu dari anak-anak tidak mampu mandiri dalam mengambil keputusan. Bukan sekadar meminta pendapat, tapi tidak bisa mengambil keputusan bila tidak ada orangtuanya.

Bahkan yang lebih parah, si wanita tidak pernah mengambil keputusan bagi keluarganya sendiri. Orangtuanyalah yang selalu mengambil keputusan.

Di sisi lain, terkadang orangtua tidak siap melepas anaknya yang sudah menikah. Mereka tetap dianggap sebagai anak kecil yang harus di bawah kendalinya. Orangtua tetap merasa harus dan berhak mengatur kehidupan anak bahkan menantunya.

Namun, ada pula istri yang mengeluh karena tak pernah merasa menjadi seorang ibu rumah tangga, karena segala sesuatu diatur mertuanya. Artinya pihak suami-lah yang belum mampu mandiri.

Pisah dari orangtua bukan jaminan

Di Indonesia, tinggal dekat atau serumah dengan orangtua hingga dewasa dan berumahtangga termasuk hal biasa. Umumnya alasan utama yakni suami-istri sama-sama bekerja di luar rumah dengan perjalanan yang amat menyita waktu.

Tinggal serumah dengan kakek-nenek membuat orangtua Indonesia merasa lebih aman meninggalkan anak-anaknya bersama pengasuh, sebab ada yang mengawasi.
Alasan kedua, tinggal bersama orangtua selama beberapa tahun membantu pasangan yang baru menikah untuk bisa menabung dan membeli rumah sendiri ketimbang dipakai untuk menyewa.

Sebaliknya, ada pasangan yang walaupun sudah mampu tinggal di rumah sendiri namun salah satu pihak masih belum bisa menjalankan peran sepenuhnya sebagai suami-istri atau ayah-ibu yang baik bagi anak-anaknya. Jadi, domisili atau perihal tempat tinggal bukanlah jaminan agar salah satu pihak (suami/istri) tak bergantung lagi dengan orangtua.

Apakah Ketergantungan Bisa Diatasi?

Hal ini bisa terwujud dengan niat dan tekad yang kuat untuk belajar mandiri. Jangan sampai masalahnya semakin besar karena pasangan terbiasa bergantung pada orangtua dan malah tidak tergerak untuk berusaha.

Kemandirian bukan berarti harus memikirkan diri sendiri tanpa memerhatikan orang lain, utamanya pasangan hidup. Kemandirian dalam berpikir dan bertindak berarti mengedepankan rasa percaya diri dalam menghadapi setiap peristiwa yang terjadi. Dengan demikian, tak perlu menunggu pasangan bertindak ketika harus menentukan sikap terhadap suatu momen penting.

(sydh/Mom& Kiddie)

Share this post..

Selanjutnya

 
Keikhlasan dan Kesabaran Bu Sumina, Si Wanita Tukang Parkir "sabar itu tidak berarti ada batasnya, kata orang sabar ada batasnya, tapi kalau buat saya nggak, sekalipun kita ngerasain beratnya hidup kaya' gimana, kita nggak cukup hanya sabar, mungkin harus lebih dari sabar lagi,. Saya Percaya Allah maha mengasihi" Ungkap Bu Sumina...
Keikhlasan dan Kesabaran Bu Sumina, Si Wanita Tukang Parkir

Bertemu dengan sosok sederhana yang tabah dan kuat dalam hidup, pasti akan memberikan kesan tersendiri. apalagi jika mendengar keseharian dan perjuangannya dalam menjadi tulang punggung keluarga. itulah bu sumina, seorang ibu yang memilih profesi tukang parkir sebagai penyangga periuk nasi keluarganya.  

Kata kata dan nasehat yang sederhana namun dalam dan penuh makna, disuguhkan sebagai hasil dari pengalamannya yang jelas jelas sangat fasih dengan hal yang bernama kemiskinan. Namun, Subhanallah, kesemua itu tidaklah mengubah pendiriannya untuk tetap berada pada jalan yang lurus. " Dulu saya pernah ditawari menjadi PSK, banyak yang menawari saya, tapi saya tidak mau. Saya masih punya malu sama Allah. Saya memang tidak punya kemampuan seperti orang yang pintar lainnya, bisa saya hanya ini. ya saya lakukan, yang penting anak anak bisa sekolah" Ujar ibu yang sudah hampir 8 tahun menjadi tukang parkir ini.

Keteguhan dan keikhlasannya pun tidak hanya sampai disitu, Bu Sumina yang mengaku masih banyak kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan masih "menyempatkan" diri untuk mengasuh anak anak yang kurang beruntung. " Seumpama ada anak teman saya yang datang kerumah, atau anak yatim yang mampir, ya mereka saya anggap anak saya sendiri. Ra sah di gawe beban ( tidak usah di buat beban ), yang ada ya dimakan bareng bareng, kalau nggak ada ya saya bilang apa adanya" Jelasnya.

Selain itu, walau dengan profesi yang dia jalankan saat ini, dia tidak segan-segan mendidik dirinya untuk tetap menjadi wanita yang patuh pada aturan Allah untuk menutup aurat " Saya putuskan untuk pakai kerudung. Saya kok merasa tenang begitu, nanti kalau orang mau pegang-pegang saya, karena saya pakai kerudung, pasti mereka tidak jadi dan malah akan malu sendiri. ini menjaga saya" Demikian ujarnya

Jika ada yang bertanya, apakah tidak ada profesi yang lain yang bisa dipilih sebagai mana pantasnya wanita? atau apakah suaminya tidak menafkahinya?, Maka garis takdir Bu Sumina menjelaskan bahwa seseorang akan selalu diberi cobaan dari manapun datangnya, termasuk dari suami dan anak. Bu sumina adalah perempuan yang telah menunggu datangnya kehadiran buah hati selama hampir 8 tahun, dan cobaan ke keduanya adalah berasal dari suaminya, yang akhirnya memaksa dia untuk menjadi tulang punggung keluarga." kalau memang bapaknya tidak sanggup membiayai kehidupan sehari- hari,ya memang berat, ya udah ndak papa, saya ikhlas, yang kerja saya" jelasnya

Memang hidup tidak selalunya lurus dan indah, namun hal inilah yang justru mendidiknya menjadi pribadi yang ikhlas dan sabar. "sabar itu tidak berarti ada batasnya, kata orang sabar ada batasnya, tapi kalau buat saya nggak, sekalipun kita ngerasain beratnya hidup kaya' gimana, kita nggak cukup hanya sabar, mungkin harus lebih dari sabar lagi" kata wanita yang bekerja dari pagi jam 7 pagi sampai setengah sembilan malam ini.

Kesabaran itu juga terwujud dari kesederhanaan sikap saat seringkali menerima tuduhan pencurian saat ada suatu barang yang hilang selama memarkirkan kendaraan. " Disabari saja mbak, wong saya ndak tahu sama sekali, demi Allah saya bentuk barangnya saja tidak lihat." katanya sambil sesekali mengingat kejadian yang sering kali menimpanya di area kerja.

Sebuah pelajaran hidup tentang sabar dan ikhlasnya seorang wanita telah diperlihatkan oleh Bu Sumina. Sama sekali tiada keluh kesah saat menggantikan posisi suami dengan memikul tanggung jawab keluarga " Siapa wanita yang mau menjadi seperti saya, pasti ndak ada, tapi ini saya lakukan demi keluarga, saya percaya Allah maha mengasihi. Allah pasti tahu niat saya baik, dan hal yang baik selalu akan dibalas Allah dengan kebaikan" Ungkapnya dengan yakin

(Syahidah/voa-islam.com)

Share this post..

Selanjutnya

 
Cara Bijak Membantu Anak Mengatasi Stress Dalam kacamata orang dewasa, anak-anak terlihat bebas dari stres. Jangan salah. Anak-anak juga bisa merasa stres. Kegiatan di sekolah ataupun pergaulannya mungkin salah satu penyebabnya....
Cara Bijak Membantu Anak Mengatasi Stress

Sebagai orang tua, kita memang tidak dapat menghindarkan anak dari stres. Namun, hal tersebut bisa diatasi dengan membantu anak membangun cara-cara yang sehat untuk menghadapi stres.

Survei dari sebuah penelitian menunjukkan anak mungkin tidak akan memulai obrolan dengan orang tua mereka, dengan menyatakan bahwa dirinya sedang menghadapi masalah sampai-sampai merasa stres.

Namun, terbukti juga bahwa anak-anak sesungguhnya ingin orang tua mengetahui perasaan dan membantu mereka.

Berikut beberapa saran yang dikutip dari Kidshealth.org yang bisa Anda terapkan jika melihat anak tengah dirundung masalah:

    * Katakan kepada anak bahwa dia terlihat sedang ada masalah. Misalnya, 'Sepertinya kamu sedang marah'. Hindari nada menuduh seperti 'Aduh, ada apa lagi sih, kok kamu kelihatannya marah'.

    * Dengarkan anak saat dia bercerita tentang apa yang dialaminya, yang membuatnya marah atau sedih. Biarkan dia bercerita sampai akhir, jangan memotong apalagi menghakiminya.

    * Perlihatkan empati, misalnya dengan berucap 'Wah, itu pasti bikin kesal, ya'. Dengan begitu, anak akan merasa didukung orang tuanya.

    * Jika ada solusi atas kejadian yang membuatnya marah, utarakan tanpa bernada perintah. Misalnya, 'Menurut ibu, kamu enggak usah main dulu deh sama si anu kalau dia sering membuatmu kesal, bagaimana menurutmu?'.

    * Jika memang kegiatan sekolah yang penuh tekanan membuat anak stres, coba kurangi kegiatannya, tentu dengan kesepakatan bersama.

    * Tak perlu berlebihan menanggapi masalahnya. Jika memang bisa dialihkan, ajak anak memikirkan topik atau kegiatan lain.

    * Terkadang anak justru sulit diajak bicara saat sedang bermasalah. Orang tua tidak perlu memaksanya. Ajak saja si anak melakukan kegiatan bersama, misalnya menonton film atau sekadar jalan-jalan. Dengan begitu anak tahu, orang tuanya selalu siap membantunya.

    * Orang tua tidak perlu langsung turun tangan memperbaiki keadaan yang membuat anak stres. Misalnya, langsung berniat melabrak anak lain yang mengakibatkan anak Anda kesal. Fokuslah membantu anak agar berkembang menjadi pribadi yang mampu memecahkan masalahnya dengan bijak.

(sydh/MI)

Share this post..

Selanjutnya

 
Muslimah Wajib Kaya!!! Bagaimana Caranya? Kenapa kaya itu suatu keharusan bagi Muslimah? Siapa yang salah bila masyarakat yang saat ini mayoritas miskin? Apa pengertian kaya yang sejati dalam Islam? Baca artikel ini!!...
Muslimah Wajib Kaya!!! Bagaimana Caranya?

Oleh: Nani Agus (Nani_agus2@yahoo.com)

Kenapa kaya itu suatu keharusan? Bagaimana dengan kondisi masyarakat yang saat ini di mana kemiskinan justru banyak dari kalangan muslimah? Siapa yang salah? Apakah ajaran Islam yang kurang mendorong, atau justru umatnya yang tidak menjalankan ajaran Islam? Apakah pengertian kaya dalam Islam adalah pengertian kaya dalam materi seperti kalangan liberal yang sangat massive mengampanyekan pemberdayaan wanita untuk mengejar kesejahteraan materi?

KAYA selalu diidentikkan dengan kesuksesan, harta melimpah, rumah dan mobil mewah serta segala yang menyangkut materi. Itulah pertanda bahwa ideologi kapitalisme telah berhasil menancapkan racun sekulerismenya sehingga kebanyakan manusia menjalani hidupnya hanya berorientasi pada dunia semata. Mencari dan menumpuk sebanyak-banyaknya harta kekayaan telah menjadi gaya hidup yang sejalan dengan hedonisme. Na’udzubillah!!

Muslimah harus kaya? Iya!!! Tentu saja kaya yang sesuai dengan jalur hukum syara’, bukan kekayaan materi semata tetapi semua kekayaan yang menjadikan muslimah tunduk dan patuh hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Kenapa??? Karena muslimah mempunyai multi peran yang strategis dan mulia. Yaitu peran sebagai pribadi muslimah itu sendiri, sebagai istri dan juga ibu, yang punya tugas sebagai manajer rumah tangga sekaligus pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Di tangan para muslimah lah hitam putih sebuah generasi akan ditentukan. Para muslimah pula yang akan mencetak bentuk dan corak warna generasi di masa yang akan datang, sehingga melahirkan manusia-manusia berkualitas yang menjadi dambaan umat, tegas dalam menegakkan yang haq dan keras dalam menentang kebatilan. Sebuah keniscayaan, di tangan para muslimah, peradaban Islam yang gemilang bisa terukir kembali.

Seorang ulama besar sekaliber Imam Syafi’i, adalah contoh nyata. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim. Diasuh dan dibesarkan oleh seorang ibu yang tangguh secara mental dan spiritual sehingga sebelum usia baligh beliau telah hafal Al-Qur’an.

Atau Imam Bukhari yang sudah tidak asing lagi di telinga kita sebagai periwayat hadits terkenal, adalah buta ketika dilahirkan. Tetapi, karena doa ikhlas yang dipanjatkan oleh wanita yang melahirkannya sehingga Allah SWT mengabulkan doanya, Imam Bukhari dapat melihat kembali dan dunia telah mengakui kejeniusan dan kecemerlangan otaknya.

TIGA KEKAYAAN MUTLAK BAGI SETIAP MUSLIMAH

Begitu penting dan besarnya peran seorang ibu muslimah dalam pembentukan generasi yang akan datang, maka ada tiga kekayaan yang mutlak harus dimiliki oleh seorang muslimah di antaranya:

Pertama, kekayaan Akidah. Akidah adalah keyakinan yang bersifat pasti. Pembenaran yang diperoleh melalui proses berpikir yang jernih dan mendalam tentang alam semesta, manusia dan kehidupan serta hubungan ketiga unsur tersebut dengan alam sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Dari proses berpikir yang benar itu akan mengantarkan sebuah keyakinan bahwasanya di balik alam semesta, manusia dan kehidupan terdapat pencipta (Khaliq) yang telah menciptakan ketiganya dan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya.

Sebagaimana firman Allah SWT:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu ia hidupkan bumi sesudah matinya (kering) dan ia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran air dan awan yang dikendalikan antar langit dan bumi. Sesungguhnya pada semua itu terdapat tanda-tanda (Keesaan dan Kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan” (Qs Al-Baqarah 164).

Keyakinan yang sempurna kepada Sang Khaliq akan menghantarkan keimanan yang benar akan adanya malaikat Allah, kitab-kitab Allah, para rasul Allah, Hari kiamat, dan takdir Allah. Inilah hakikat dari kekayaan akidah.

….Dengan akidah yang benar, Muslimah akan selalu tegar ketika menghadapi badai kehidupan. Berpikir jernih dan mampu melampaui setiap ujian yang datang menimpa….

Dengan akidah yang benar, Muslimah akan selalu tegar ketika menghadapi badai dalam kehidupannya. Berpikir jernih dan mampu melampaui setiap ujian yang menghampiri, baik ujian yang menimpa dirinya, keluarganya, atau lingkungan sosial dan dakwahnya. Sebagai istri, ia juga akan senantiasa menjadi penenang bagi suaminya, pendukung utama kiprah dakwah suami, dan dengan kelemahlembutannya, seorang suami akan mendapatkan kekuatan untuk tetap istiqamah dan terhindar dari segala bentuk syirik dan bid’ah.

Cukuplah Khadijah, istri Rasulullah SAW menjadi teladan kita. Seperti yang digambarkan dalam sebuah hadits:

Rasulullah SAW bersabda, aku dikaruniahi oleh Allah rasa cinta yang mendalam kepada Khadijah. Demi Allah, aku tidak pernah mendapat pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Ia yang beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Ia yang mempercayaiku ketika semua orang mendustakanku. Ia yang memberiku harta pada saat semua orang enggan memberi. Dan darinyalah aku memperoleh keturunan, sesuatu yang tidak pernah kuperoleh dari istri-istriku yang lain” (HR. Ahmad).

Begitu pula peran muslimah sebagai ibu. Seorang ibu yang telah memiliki akidah yang menghujam kuat ke dasar hatinya, akan menularkan perilaku dan cara berpikir yang benar kepada anak-anaknya. Dalam bimbingan dan pengasuhan muslimah seperti ini, anak akan kritis dan cerdas mengamati realitas di sekitar lingkungannya. Anak-anak tidak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan negatif apalagi hal-hal yang berbau kemusyrikan.

Seorang ibu yang kokoh akidahnya, mampu menggiring anak-anaknya untuk mencintai Allah dan rasul-Nya di atas rasa cintanya terhadap segala sesuatu yang menarik hatinya. Anak-anak akan tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang optimis karena meyakini bahwa tidak ada yang lebih berhak mengatur atas hidupnya selain Allah azza wa jalla. Selalu sigap dan waspada terhadap segala bentuk kemaksiatan karena takut dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat kelak.

….Seorang ibu yang kokoh akidahnya, mampu menggiring anak-anaknya untuk mencintai Allah dan rasul-Nya di atas rasa cintanya terhadap segala sesuatu yang menarik hatinya….

Siti Hajar adalah salah satu contoh muslimah yang memiliki kekuatan akidah. Hanya menyandarkan keyakinannya pada Allah saja, ia rela meninggalkan putranya Ismail untuk berjuang mencari air dengan berlari dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya. Pada akhirnya Allah menjawab atas pengorbanan dan keyakinannya dengan memancarkan air kehidupan yang bernama zamzam.

Kedua, kekayaan tsaqofah. Terkait kewajiban utamanya yang multi dimensi maka seorang muslimah/ibu harus memiliki tsaqofah yang luas tidak hanya terbatas pada tsaqofah Islam tetapi juga tsaqofah-tsaqofah yang bersifat umum. Sejarah telah membuktikan, bahwa perubahan sosial yang terjadi di masyarakat adalah hasil dari pembinaan tsaqofah secara berkesinambungan, penuh perencanaan dan sisitematis.

Aisyah RA, adalah teladan sebaik-baik wanita. Beliau adalah satu-satunya istri Rasulullah yang cerdas dan berwawasan luas. Ribuan hadits Rasulullah yang berkenaan dengan hukum, wahyu dan perilaku nabi bersumber dari Aisyah. Aisyah tidak saja mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam menyerap ilmu tapi beliau juga dikenal sebagai guru yang handal yang mempunyai lidah yang fasih dan lancar. Karena kecerdasannya dan daya ingatnya yang tajam, beliau juga dikenal sebagai periwayat hadits nabi. Selain itu Aisyah juga dikenal sebagai wanita yang piawai berorasi. Beliau akan bersuara lantang ketika di hadapannya terjadi penyelewengan yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah.

Mari, kita berlomba menjadi Aisyah-Aisyah masa kini. Mengasah kecerdasan dengan membekali diri dengan ilmu-ilmu Islam, terus belajar dan mengkaji hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah, makanan, pakaian, hukum perbuatan dan masalah-masalah yang terkait dengan sistem, seperti sistem pendidikan, sistem ekonomi dan politik dalam Islam. Jika muslimah telah mumpuni dengan tsaqofah yang dimilikinya maka kemampuan analisanya pun akan semakin tajam, pada gilirannya akan lebih argumentatif dalam menyampaikan kebenaran Islam.

….Tsaqofah Islam yang dimiliki oleh ibu muslimah akan menjadi pondasi kokoh bagi penyelesaian masalah sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang matang, berkualitas, percaya diri dan tidak ragu dalam bertindak…

Kapasitas intelektual yang baik bagi seorang muslimah, sangat menunjang perannya sebagai ibu. Ibu yang cerdas sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya dalam menuntun perkembangan mental dan spiritualnya. Apalagi di tengah kondisi masyarakat yang jauh dari nilai-nilai Islam, maka seorang ibu harus bisa menempatkan dirinya menjadi figur ideal yang mampu menganalisa dan memberikan solusi bagi setiap permasalahan yang dihadapi oleh anak-anaknya. Tsaqofah Islam yang dimiliki oleh muslimah/ibu akan menjadi landasan atau pondasi yang sangat kokoh bagi penyelesaian masalah sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang matang, berkualitas, percaya diri dan tidak ragu dalam bertindak.

Dengan tsaqofah yang dimilikinya, seorang ibu diharapkan mampu menciptakan iklim di rumah dengan kebiasaan-kebiasaan yang selalu mengaitkan dengan hukum syara’. Misalnya ketika anak-anak bertanya tentang pergaulan dengan lawan jenis, maka dengan kapasitas keilmuaannya seorang ibu bisa berhujjah dengan logis dan benar bahwa pacaran itu dilarang dalam agama, atau ketika memilih makanan, pilihlah makanan yang halal dan baik untuk kesehatan, atau jika anak-anak latah dengan perayaan valentines yang acap marak, ibu yang faham akan bisa mengarahkan anak-anaknya dan memberikan pengertian bahwasanya perayaan valentines itu adalah tasyabbuh, atau ketika anak-anak bingung dengan fenomena di negeri kita yang acapkali merayakan hari raya Idul Fitri berbeda, maka seorang ibu yang memiliki tsaqofah Islam yang baik mampu memberikan ketenangan dan keyakinan dengan keputusan yang diambil.

Selain itu, muslimah juga harus tanggap dan cermat dengan informasi-informasi global, berita-berita dunia keislaman atau perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat. Dengan demikian diharapkan mampu memberikan jawaban dengan analisa yang tajam dan mencerdaskan ketika anak-anak ataupun masyarakat umum melontarkan pertanyaan.

Ketiga, kekayaan amaliyah. Sia-sialah ilmu tanpa amal dan rusaklah amal yang tidak dilandasi oleh ilmu. Ilmu dan amal merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Setelah memiliki akidah yang benar dan tsaqofah yang luas, maka tidak akan berarti apa-apa jika semua itu tidak ada aplikasinya.

Sungguh, Allah SWT telah menguji kita dengan melihat siapakah yang terbaik amalnya. Sebagaimana firman-Nya: “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya” (Qs Al-Mulk 2).

Ihsanul ’amal (amal yang terbaik) hanya terwujud bila memenuhi dua syarat:

Syarat pertama adalah niat hanya karena Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung pada niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya” (HR Bukhari Muslim)

Dan syarat kedua adalah sesuai dengan sunnah Rasulullah, sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak” (Bukhari dan Muslim).

“Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak sesuai dengan urusan kami maka ia tertolak” (HR Muslim).

….Kepribadian Islam akan terbentuk dengan sendirinya ketika seorang muslimah mampu menjaga lisan, fikrah dan akhlaknya….

Muslimah yang paham tentu akan senantiasa berusaha untuk menjaga amal-amalnya agar menjadi amalan yang terbaik di sisi Allah SWT. Kepribadian Islam akan terbentuk dengan sendirinya ketika seorang muslimah mampu menjaga lisan, fikrah dan akhlaknya, sehingga keberadaannya sebagai bagian dari interaksi sosial akan menjadi figur yang diteladani.

Sebagai istri, keberadaannya tidak saja sebagai mitra untuk saling mengingatkan dalam kebenaran tetapi lebih dari itu, dengan amaliyah dan ketaatannya yang sungguh-sungguh akan menjadi penyejuk sekaligus motivasi yang luar biasa bagi suami untuk semakin meningkatkan kedekatannya kepada Allah SWT.

Dan bagi anak-anaknya, ibu yang selalu terjaga amal-amalnya akan menjadi contoh nyata yang paling dekat, yang akan ditiru dan diikuti karena mereka menyaksikan ibunya tidak hanya memiliki pola aqliyah (pemikiran) yang cemerlang tetapi juga menjunjung tinggi pola nafsiyah (perilaku) yang islami dalam setiap tindak tanduknya.

Hayo, sama-sama kita jaga kekayaan yang luar biasa ini. Mulai dari yang paling kecil, mulai dari diri sendiri dan mulailah dari detik ini juga.

Jangan puas dalam mencari ilmu, perbanyak silaturahmi dan pilihlah lingkungan yang baik, karena sesungguhnya tingkat keimanan itu berfluktuasi. Mudah-mudahan dengan lingkungan yang selektif, menyambung silaturahmi dengan orang–orang shalih, maka akidah, tsaqofah dan amaliyah kita tetap terjaga dari virus-virus yang bisa merusaknya, dan kita bisa senantiasa istiqamah di jalan Allah hingga akhir zaman. Wallahu a‘lam bis-shawab. [voa-islam.com]

Share this post..

Selanjutnya

 
Keajaiban Telur sarapan telur rebus atau poach sebelum anak berangkat sekolah bermanfaat bagi energi dan kecerdasan. Janin juga memiliki IQ lebih tinggi bila calon ibu secara rutin mengasup dua butir telur setiap hari....
Keajaiban Telur

Di balik kandungan nutrisinya yang kaya, telur berkontribusi meningkatkan kadar kolesterol tubuh. Ini yang kemudian memunculkan anjuran agar tak mengonsumsi telur lebih dari empat kali seminggu.

Berdasar penelitian terbaru di Amerika Serikat, telur merupakan salah satu menu diet sehat yang terbukti selama beberapa dekade terakhir. Telur diklaim bukan sebagai penyebab utama peningkatan kadar kolesterol dalam darah.

Dari studi yang sama diketahui, telur yang diklaim rendah kolesterol justru kaya vitamin D yang berperan dalam pembentukan tulang. Peningkatan kolesterol lebih banyak disebabkan konsumsi lemak trans.

Ahli gizi Amanda Ursell mengungkap, sarapan telur rebus atau poach sebelum anak berangkat sekolah bermanfaat bagi energi dan kecerdasan. Janin juga memiliki IQ lebih tinggi bila calon ibu secara rutin mengasup dua butir telur setiap hari.

Berikut lima manfaat utama telur:

1. Cepat memberi rasa kenyang
Makan telur saat sarapan membantu Anda menurunkan berat badan secara signifikan dengan memotong asupan kalori harian. Makanan kaya protein membuat telur lebih lama dicerna di perut.

Peneliti di Pusat Obesitas Rochester Amerika Serikat menemukan bahwa wanita yang mengkonsumsi dua telur rebus untuk sarapan pergi, makan 400 kalori lebih sedikit selama sisa hari dibandingkan sarapan roti.

2. Mengencerkan otak
Dua telur dengan kandungan 550 miligram kolin setiap hari selama kehamilan akan membantu perkembangan otak janin dan menghasilkan ingatan tajam pada anak. Kolin juga penting untuk memori. Sumber kolin lain termasuk kacang kedelai, ayam dan salmon.

3. Mengurangi risiko kebutaan karena usia
Lutein yang ada di telur membantu meningkatkan kesehatan mata dan mengurangi risiko kebutaan yang berkaitan dengan usia.

4. Mengandung asam lemak omega 3
Lemak ini sangat penting untuk pengembangan mata dan pendengaran pada anak-anak dan fungsi otak sepanjang hidup. Asam esensial juga membantu menjaga sirkulasi dan menurunkan risiko penyakit jantung. Telur dengan omega 3 juga memiliki lebih sedikit lemak jenuh.

5. Kaya Protein
Sebutir telur memiliki 8 gram protein, nutrisi yang sangat penting untuk menjaga kulit tetap kencang dan membentuk otot yang kuat. Wanita membutuhkan 45 gram protein sehari dan pria membutuhkan 55 gram atau sekitar 2-3 butir.

(sydh/vn)

Share this post..

Selanjutnya

 
Waspadai Obat Demam Dengan Dosis Yang Salah Pada Anak satu sendok paracetamol dan ibuprofen dipercaya meredam panas anak. Padahal berdasar studi di Amerika Serikat, menggabungkan kedua obat itu justru akan memperlama penyembuhan dan berisiko terhadap kesehatan anak....
Waspadai Obat Demam Dengan Dosis Yang Salah Pada Anak

Melihat anak demam, sejumlah orangtua begitu mudah memberikan satu sendok paracetamol dan ibuprofen secara bersamaan demi meredam panik. Padahal berdasar studi di Amerika Serikat, menggabungkan kedua obat itu justru akan memperlama penyembuhan dan berisiko terhadap kesehatan anak.

Dalam studi tersebut, sejumlah dokter spesialis anak yang terlibat mengungkap bahwa banyak orangtua memberi anak obat dengan dosis yang salah. Termasuk di dalamnya inisiatif menggabungkan kedua obat tersebut sebagai penurun demam.

The American Academy of Pediatrics mengatakan bahwa demam bukanlah penyakit, melainkan sebuah mekanisme tubuh dalam melawan infeksi bakteri atau virus. Memberikan obat dengan dosis yang salah justru akan memperkuat penyakit tersebut.

Sejumlah dokter memang menganjurkan pemberian paracetamol dan ibuprofen dengan dosis yang cukup untuk meminimalisasi efek samping demam pada anak. Namun, menurut aturan pengobatan The National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE), penggunaan obat harus mempertimbangkan tingkat keparahan demam.

Penggunaan kedua obat itu hanya dianjurkan ketika demam anak tidak turun setelah mengonsumsi salah satu dari kedua obat tersebut. Berdasarkan The British National Formulary, dokter tidak boleh memberikan resep lebih dari empat dosis paracetamol untuk periode 24 jam, dan tidak lebih dari empat dosis ibuprofen per hari.

Selama ini, kesalahan populer adalah memberi anak dosis obat untuk orang dewasa. Bukan hanya usia, orangtua juga wajib mempertimbangkan postur tubuh anak. Dosis harus diperkecil dari standar untuk anak dengan postur tubuh lebih kecil, meski usia sama.

Pemberian berlebihan paracetamol dapat mengakibatkan asma. Sedangkan ibuprofen yang berlebihan dapat mengakibatkan radang usus dan pendarahan. Karena itulah, orangtua harus lebih berhati-hati memberi obat pada anak. Jauhkan obat dari jangkauan anak sehingga terhindar dari efek samping pemberian obat yang melebihi dosis. (sydh/vn)

Share this post..

Selanjutnya

 
Agar Anak Tidur Tepat Waktu Ketika mulai beranjak besar, anak-anak mulai sulit diminta tidur. Ada saja hal-hal yang membuat mereka tak mau pergi ke tempat tidur. Berikut ini enam tips agar mereka mau pergi tidur tepat waktu...
Agar Anak Tidur Tepat Waktu

Ketika mulai beranjak besar, anak-anak mulai sulit diminta tidur. Ada saja hal-hal yang membuat mereka tak mau pergi ke tempat tidur. Berikut ini enam tips agar mereka mau pergi tidur tepat waktu:

1. Langkah pertama agar anak mau pergi tidur tanpa banyak keributan adalah dengan membuat rutinitas. Saat anak tidur di waktu yang sama setiap harinya, tubuh mereka akan beradaptasi dan mereka akan mengantuk dengan mudah.

2. Sangat penting untuk membatasi kegiatan yang menstimulasi mental dan fisiknya seperti menonton televisi, bermain komputer atau permainan yang melibatkan fisik. Usahakan anak-anak tidak melakukan kegiatan tersebut beberapa jam sebelum mereka tidur. Kegiatan yang lebih menenangkan seperti membaca, menggambar adalah pilihan yang lebih baik.

3. Salah satu cara membuat anak mood untuk pergi tidur adalah dengan membacakan mereka cerita. Kegiatan ini selain menenangkannya, juga membuat anak terbiasa di otak mereka kalau dengan melakukan aktivitas tersebut artinya sudah waktunya tidur.

4. Pastikan anak merasa nyaman sepanjang malam, misalnya dengan menaruh mainan favoritnya di tempat tidur atau benda-benda lainnya yang ia sukai.

5. Pakaian yang dikenakan anak selama tidur juga harus nyaman, jangan terlalu ketat, panas dan tipis.

6. Begitu anak sudah berada di tempat tidurnya dan terlihat mulai mengantuk, tinggalkan kamarnya. Biarkan anak belajar untuk tertidur sendiri tanpa bergantung pada kehadiran orang tuanya.

Bagaimana jika anak tidak mau berada di tempat tidurnya? Dilansir Kids Health, berikut ini beberapa cara mengatasinya:

1. Ajak anak kembali ke tempat tidurnya. Jangan biarkan dia berlama-lama di kamar Anda.

2. Cari tahu apa yang membuat anak tidak mau tidur di kamarnya. Kalau dia takut, misalnya karena lampu dimatikan, biarkan selama beberapa saat lampu di kamarnya menyala.

3. Jika anak tiba-tiba menangis, tunggu beberapa menit, baru setelah itu Anda mendatanginya.

4. Kalau anak terus menangis dan memanggil Anda setiap ditinggalkan, tunggu beberapa saat, setiap Anda akan kembali melihatnya.

5. Beritahu anak kalau sekarang sudah waktunya dia tidur. Katakan padanya kalau Anda pasti akan mendatangi kamarnya kalau dia sudah tenang atau malah tertidur.

(sydh/dtc)

Share this post..

Selanjutnya

 
Sejumlah Kesalahan Orang Tua Dalam Mendidik Anak Tentang Uang Kebiasaan apa pun yang Anda ajarkan kepada anak terkait keuangan, bisa menular dan tertanam kuat di diri mereka hingga tumbuh dewasa. Sayangnya, tidak sedikit orangtua yang memberikan contoh keliru kepada buah hatinya soal uang....
Sejumlah Kesalahan Orang Tua Dalam Mendidik Anak Tentang Uang

Kebiasaan apa pun yang Anda ajarkan kepada anak terkait keuangan, bisa menular dan tertanam kuat di diri mereka hingga tumbuh dewasa. Sayangnya, tidak sedikit orangtua yang memberikan contoh keliru kepada buah hatinya soal uang.

Para pakar keuangan mengatakan, berkomunikasi dengan anak-anak tentang uang dan memimpin dengan contoh positif, sangat penting bagi masa depan keuangan anak-anak mereka. Namun, orangrua sering mengirimkan pesan yang membingungkan dan mengancam pertumbuhan keuangan anak-anak mereka.

Nah, berikut ini adalah sejumlah hal yang sebaiknya tidak dilakukan dalam mengajarkan anak soal keuangan, seperti dikutip situs forbes.com:

Diam
Theresa Harezlak, penasihat keuangan dari Savant Capital Management dan ibu dari dua anak, mengatakan kesalahan uang terbesar yang dibuat orang tua adalah diam. Dalam kebanyakan rumah tangga, kata Harezlak, orang tua tidak menjelaskan tentang kondisi keuangan mereka sendiri atau cara kerja uang. Beberapa orang tua bahkan mungkin mengatakan kepada anak-anak mereka, bahwa uang merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan.

Kartu kredit
Kesalahan lain yang umum dilakukan orangtua adalah menggunakan kartu kredit di depan anak-anak, tanpa menjelaskan cara kerjanya. Buah hati bisa menilai kartu kredit itu sebagai kartu ajaib yang dapat memenuhi semua keinginan mereka. Hal ini dapat mengakibatkan penyalahgunaan kredit di kemudian hari.

Harezlak menyarankan agar orangtua setidaknya menjelaskan kepada anak-anak, bahwa tagihan akan datang setiap akhir bulan. Seiring waktu, orang tua juga harus mengajarkan anak-anak tentang kapan dan mengapa kartu kredit dapat bermanfaat, serta bagaimana cara mempertahankan kredit yang baik.

Enggan menolak
Menurut David Bach, ahli keuangan pribadi dan penulis buku bestseller seperti 'Debt Free For Life,' kesalahan terbesar para orangtua adalah tidak mengatakan kata 'tidak.' Tidak sedikit orangtua yang langsung mengabulkan setiap keinginan anak-anaknya, bahkan meski pun telah menetapkan aturan atau anggaran.

Bach mengatakan, tindakan ini bisa membuat anak tumbuh menjadi orang dewasa yang mendambakan kepuasan instan. Jika anak menginginkan sesuatu yang tidak ada dalam anggaran, ia menyarankan untuk menggunakan kesempatan tersebut guna mengajarkan perbedaan antara keinginan dan kebutuhan.

Berbohong
Sebuah survei yang dilakukan ForbesWoman terbaru, menemukan bahwa 31 persen orang dewasa berbohong tentang uang kepada pasangannya. Jika Anda berkata kepada anak, ''Ini rahasia kita,'' atau ''Jangan beritahu ayah,'' si kecil bisa menyimpulkan mereka juga tidak perlu jujur tentang uang.

Setelah anak menyadari bahwa orangtuanya tidak jujur atau tidak berkomunikasi satu sama lain, mereka dapat belajar untuk memanipulasi ayah dan ibunya. Selanjutnya, Bach mengatakan bahwa kebanyakan orang mengelola uang seperti orangtua mereka, yang berarti mereka mungkin akan melanggengkan ketidakjujuran dalam hubungan mereka sendiri

(sydh/MI)

Share this post..

Selanjutnya

 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
Powered by Tags for Joomla
Copyright © 2009 Alumni SMAN 1 Gunung Talang. All Rights Reserved. | Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License
Website Alumni SMAN 1 Gunung Talang - Cupak, Solok disiapkan oleh bpiliang | Template by JoomlaPraise