islam

PT XL Axiata, Tbk bekerjasama dengan Yayasan Khazanah untuk memberikan Warga Negara Indonesia yang berprestasi untuk dapat melanjutkan studinya ke jenjang S2 di Malaysia. Khazanah Global Scholarship is a prestigious award that offers opportunities for bright and high-achieving Malaysians to pursue Undergraduate and Postgraduate studies at the...

PT XL Axiata, Tbk bekerjasama dengan Yayasan Khazanah untuk memberikan Warga Negara Indonesia yang berprestasi untuk dapat melanjutkan studinya ke jenjang S2 di Malaysia. Khazanah Global Scholarship is a prestigious award that offers opportunities for bright and high-achieving Malaysians to pursue Undergraduate and Postgraduate studies at the selected world’s leading universities. In addition, recipients of the Khazanah Global Scholarship are provided with leadership training and job attachment at leading organisations in Malaysia.
Proses pendaftaran serta penyaringan para peserta program beasiswa pendidikan S2 ini akan mulai dibuka untuk masyarakat umum ,mulai tanggal 11 Juni hingga 15 Juli 2010. Dari para calon peserta yang mendaftar, nantinya hanya akan dipilih 5 orang terbaik yang berhak untuk dapat mendapatkan program beasiswa ini. Adapun pilihan program studi yang bisa dipilih oleh para peserta adalah Manajemen Pemasaran, Manajemen Bisnis, Teknologi Informatika serta Teknologi Telekomunikasi di 7 Universitas ternama di Malaysia yakni: Multimedia Univesiti, Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Islam Antarbangsa Malaysia, Universitas Islam Antarbangsa Malaysia, Universitas Malaya, Universitas Putra Malaysia, Universiti Sains Malaysia

Beasiswa Scholarship General Terms and Conditions:
1. Posses strong leadership skills and active participation in extra-curricular, social or voluntary activities
2. A personal statement (for undergraduate study) or a research outline (for postgraduate study) will be required.
3. Applicants must have consistence and outstanding academic achievement record as follows:
Kriteria
1. Warga Negara Indonesia
2. Lulus Pendidikan SMA/SMK/STM dengan nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) min 8.00 dari 10.00
3. Lulus Pendidikan S1 dengan IPK min 3,5 dari 4,0
4. Memiliki Kemampuan memimpin yang baik serta aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler atau kegiatan sosial
5. Mampu berbahasa Inggris dengan Baik Baik tulis maupun Lisan
6. Berbadan Sehat

Bidang beasiswa Khazanah Global Scholarship
1. Manajemen Pemasaran (Management – Marketing)
2. Manajemen Bisnis (Business Management)
3. Teknologi Informatika (Information Technology)
4. Teknologi Telekomunikasi (Telecommunication Technology)

Pilihan Universitas untuk beasiswa Khazanah Global Scholarship
a) Multimedia University
b) Universiti Tenaga Nasional
c) Universiti Sains Malaysia
d) Universiti Kebangsaan Malaysia
e) Universiti Putra Malaysia
f) Universiti Malaya
g) Universiti Islam Antarabangsa Malaysia.

Copy Dokumen yang diperlukan:
1. Fotocopy Ijazah kelulusan SMA/SMK/STM dan setingkatnya
2. Fotocopy Ijazah kelulusan Perguruan Tinggi setingkatnya
3. List Kurikulum mata kuliah mulai dari semester 1 sampai akhir.
4. Transkrip nilai dari semester 1 hingga selesai. (Ujian Nasional, Ujian Sekolah serta Tingkat Perguruan Tinggi)
5. SErtifikat TOEIC /TOEFL (Jika ada)
6. Sertifikat lainnya (Jika ada)
7. Fotocopy KTP
8. Riwayat Hidup/Curriculum Vitae

Cara Pendaftaran:
1. Download form pendaftaran beasiswa Khazanah Global Scholarship
2. Isilah form pendaftaran
3. Kirimkan form tersebut berikut dokumen yang kami minta melalui email ke corpcomm@xl.co.id

Incoming search terms for the article:

Related Informasi Beasiswa Scholarship:

The Goldman Sachs Global Leaders Program (GSGLP) – The University of Sydney
The Goldman Sachs Global Leaders Program (GSGLP) was established by the Goldman Sachs Foundation in 2001. The Goldman Sachs Global

King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) Discovery Scholarship
King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) is being built in Saudi Arabia as an international, graduate-level research university

Lippo Bank Scholarsip 2007 Intake
PT Bank Lippo Tbk (LB), a major investee company of Khazanah Nasional Berhad, Malaysia, believes in developing the human capital

Sayembara Karya Tulis Bank Indonesia
Dalam rangka mendorong optimisme bagi masa depan negara tercinta, Bank Indonesia mendorong pemikiran kreatif dari putra-putri terbaik bangsa melalui Sayembara

Cari Beasiswa di sini
Ini ada blog bagus buat kamu-kamu yang mau cari beasiswa. Situs ini memuat banyak informasi mengenai Yayasan-yayasan pemberi beasiswa, tips

Follow any responses to this entry when people search for daftar beasiswa s2 (10), beasiswa s2 (8), scholarship s2 (8), uNIVERSITAS ANTAR BANGSA (8), beasiswa s2 ekonomi islam (8), beasiswa s2 ekonomi islam 2010 (7), universitas islam antar bangsa malaysia (7), beasiswa s2 khazanah (6), s2 scholarship (6), universitas antar bangsa malaysia (5), universitas islam antar bangsa (5), khazanah beasiswa (4), BEASISWA S2 UNIVERSITAS KEBANGSAAN MALAYSIA (4), khazanah global scholarship (3), daftar pemberi beasiswa s2 (3), beasiswa s2 universitas malaya (3), s2 ekonomi islam (3), s-2 di malaysia (3), khazanah scholarship (3), Global scholarship (3),Majalah Luar Negri Gratis

Subscribe Beasiswa student scholarship feed. Leave a response, or Trackback from your own site.

Read more

 
Muslimah Wajib Kaya!!! Bagaimana Caranya? Kenapa kaya itu suatu keharusan bagi Muslimah? Siapa yang salah bila masyarakat yang saat ini mayoritas miskin? Apa pengertian kaya yang sejati dalam Islam? Baca artikel ini!!...
Muslimah Wajib Kaya!!! Bagaimana Caranya?

Oleh: Nani Agus (Nani_agus2@yahoo.com)

Kenapa kaya itu suatu keharusan? Bagaimana dengan kondisi masyarakat yang saat ini di mana kemiskinan justru banyak dari kalangan muslimah? Siapa yang salah? Apakah ajaran Islam yang kurang mendorong, atau justru umatnya yang tidak menjalankan ajaran Islam? Apakah pengertian kaya dalam Islam adalah pengertian kaya dalam materi seperti kalangan liberal yang sangat massive mengampanyekan pemberdayaan wanita untuk mengejar kesejahteraan materi?

KAYA selalu diidentikkan dengan kesuksesan, harta melimpah, rumah dan mobil mewah serta segala yang menyangkut materi. Itulah pertanda bahwa ideologi kapitalisme telah berhasil menancapkan racun sekulerismenya sehingga kebanyakan manusia menjalani hidupnya hanya berorientasi pada dunia semata. Mencari dan menumpuk sebanyak-banyaknya harta kekayaan telah menjadi gaya hidup yang sejalan dengan hedonisme. Na’udzubillah!!

Muslimah harus kaya? Iya!!! Tentu saja kaya yang sesuai dengan jalur hukum syara’, bukan kekayaan materi semata tetapi semua kekayaan yang menjadikan muslimah tunduk dan patuh hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Kenapa??? Karena muslimah mempunyai multi peran yang strategis dan mulia. Yaitu peran sebagai pribadi muslimah itu sendiri, sebagai istri dan juga ibu, yang punya tugas sebagai manajer rumah tangga sekaligus pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Di tangan para muslimah lah hitam putih sebuah generasi akan ditentukan. Para muslimah pula yang akan mencetak bentuk dan corak warna generasi di masa yang akan datang, sehingga melahirkan manusia-manusia berkualitas yang menjadi dambaan umat, tegas dalam menegakkan yang haq dan keras dalam menentang kebatilan. Sebuah keniscayaan, di tangan para muslimah, peradaban Islam yang gemilang bisa terukir kembali.

Seorang ulama besar sekaliber Imam Syafi’i, adalah contoh nyata. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim. Diasuh dan dibesarkan oleh seorang ibu yang tangguh secara mental dan spiritual sehingga sebelum usia baligh beliau telah hafal Al-Qur’an.

Atau Imam Bukhari yang sudah tidak asing lagi di telinga kita sebagai periwayat hadits terkenal, adalah buta ketika dilahirkan. Tetapi, karena doa ikhlas yang dipanjatkan oleh wanita yang melahirkannya sehingga Allah SWT mengabulkan doanya, Imam Bukhari dapat melihat kembali dan dunia telah mengakui kejeniusan dan kecemerlangan otaknya.

TIGA KEKAYAAN MUTLAK BAGI SETIAP MUSLIMAH

Begitu penting dan besarnya peran seorang ibu muslimah dalam pembentukan generasi yang akan datang, maka ada tiga kekayaan yang mutlak harus dimiliki oleh seorang muslimah di antaranya:

Pertama, kekayaan Akidah. Akidah adalah keyakinan yang bersifat pasti. Pembenaran yang diperoleh melalui proses berpikir yang jernih dan mendalam tentang alam semesta, manusia dan kehidupan serta hubungan ketiga unsur tersebut dengan alam sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Dari proses berpikir yang benar itu akan mengantarkan sebuah keyakinan bahwasanya di balik alam semesta, manusia dan kehidupan terdapat pencipta (Khaliq) yang telah menciptakan ketiganya dan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya.

Sebagaimana firman Allah SWT:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu ia hidupkan bumi sesudah matinya (kering) dan ia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran air dan awan yang dikendalikan antar langit dan bumi. Sesungguhnya pada semua itu terdapat tanda-tanda (Keesaan dan Kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan” (Qs Al-Baqarah 164).

Keyakinan yang sempurna kepada Sang Khaliq akan menghantarkan keimanan yang benar akan adanya malaikat Allah, kitab-kitab Allah, para rasul Allah, Hari kiamat, dan takdir Allah. Inilah hakikat dari kekayaan akidah.

….Dengan akidah yang benar, Muslimah akan selalu tegar ketika menghadapi badai kehidupan. Berpikir jernih dan mampu melampaui setiap ujian yang datang menimpa….

Dengan akidah yang benar, Muslimah akan selalu tegar ketika menghadapi badai dalam kehidupannya. Berpikir jernih dan mampu melampaui setiap ujian yang menghampiri, baik ujian yang menimpa dirinya, keluarganya, atau lingkungan sosial dan dakwahnya. Sebagai istri, ia juga akan senantiasa menjadi penenang bagi suaminya, pendukung utama kiprah dakwah suami, dan dengan kelemahlembutannya, seorang suami akan mendapatkan kekuatan untuk tetap istiqamah dan terhindar dari segala bentuk syirik dan bid’ah.

Cukuplah Khadijah, istri Rasulullah SAW menjadi teladan kita. Seperti yang digambarkan dalam sebuah hadits:

Rasulullah SAW bersabda, aku dikaruniahi oleh Allah rasa cinta yang mendalam kepada Khadijah. Demi Allah, aku tidak pernah mendapat pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Ia yang beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Ia yang mempercayaiku ketika semua orang mendustakanku. Ia yang memberiku harta pada saat semua orang enggan memberi. Dan darinyalah aku memperoleh keturunan, sesuatu yang tidak pernah kuperoleh dari istri-istriku yang lain” (HR. Ahmad).

Begitu pula peran muslimah sebagai ibu. Seorang ibu yang telah memiliki akidah yang menghujam kuat ke dasar hatinya, akan menularkan perilaku dan cara berpikir yang benar kepada anak-anaknya. Dalam bimbingan dan pengasuhan muslimah seperti ini, anak akan kritis dan cerdas mengamati realitas di sekitar lingkungannya. Anak-anak tidak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan negatif apalagi hal-hal yang berbau kemusyrikan.

Seorang ibu yang kokoh akidahnya, mampu menggiring anak-anaknya untuk mencintai Allah dan rasul-Nya di atas rasa cintanya terhadap segala sesuatu yang menarik hatinya. Anak-anak akan tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang optimis karena meyakini bahwa tidak ada yang lebih berhak mengatur atas hidupnya selain Allah azza wa jalla. Selalu sigap dan waspada terhadap segala bentuk kemaksiatan karena takut dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat kelak.

….Seorang ibu yang kokoh akidahnya, mampu menggiring anak-anaknya untuk mencintai Allah dan rasul-Nya di atas rasa cintanya terhadap segala sesuatu yang menarik hatinya….

Siti Hajar adalah salah satu contoh muslimah yang memiliki kekuatan akidah. Hanya menyandarkan keyakinannya pada Allah saja, ia rela meninggalkan putranya Ismail untuk berjuang mencari air dengan berlari dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya. Pada akhirnya Allah menjawab atas pengorbanan dan keyakinannya dengan memancarkan air kehidupan yang bernama zamzam.

Kedua, kekayaan tsaqofah. Terkait kewajiban utamanya yang multi dimensi maka seorang muslimah/ibu harus memiliki tsaqofah yang luas tidak hanya terbatas pada tsaqofah Islam tetapi juga tsaqofah-tsaqofah yang bersifat umum. Sejarah telah membuktikan, bahwa perubahan sosial yang terjadi di masyarakat adalah hasil dari pembinaan tsaqofah secara berkesinambungan, penuh perencanaan dan sisitematis.

Aisyah RA, adalah teladan sebaik-baik wanita. Beliau adalah satu-satunya istri Rasulullah yang cerdas dan berwawasan luas. Ribuan hadits Rasulullah yang berkenaan dengan hukum, wahyu dan perilaku nabi bersumber dari Aisyah. Aisyah tidak saja mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam menyerap ilmu tapi beliau juga dikenal sebagai guru yang handal yang mempunyai lidah yang fasih dan lancar. Karena kecerdasannya dan daya ingatnya yang tajam, beliau juga dikenal sebagai periwayat hadits nabi. Selain itu Aisyah juga dikenal sebagai wanita yang piawai berorasi. Beliau akan bersuara lantang ketika di hadapannya terjadi penyelewengan yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah.

Mari, kita berlomba menjadi Aisyah-Aisyah masa kini. Mengasah kecerdasan dengan membekali diri dengan ilmu-ilmu Islam, terus belajar dan mengkaji hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah, makanan, pakaian, hukum perbuatan dan masalah-masalah yang terkait dengan sistem, seperti sistem pendidikan, sistem ekonomi dan politik dalam Islam. Jika muslimah telah mumpuni dengan tsaqofah yang dimilikinya maka kemampuan analisanya pun akan semakin tajam, pada gilirannya akan lebih argumentatif dalam menyampaikan kebenaran Islam.

….Tsaqofah Islam yang dimiliki oleh ibu muslimah akan menjadi pondasi kokoh bagi penyelesaian masalah sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang matang, berkualitas, percaya diri dan tidak ragu dalam bertindak…

Kapasitas intelektual yang baik bagi seorang muslimah, sangat menunjang perannya sebagai ibu. Ibu yang cerdas sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya dalam menuntun perkembangan mental dan spiritualnya. Apalagi di tengah kondisi masyarakat yang jauh dari nilai-nilai Islam, maka seorang ibu harus bisa menempatkan dirinya menjadi figur ideal yang mampu menganalisa dan memberikan solusi bagi setiap permasalahan yang dihadapi oleh anak-anaknya. Tsaqofah Islam yang dimiliki oleh muslimah/ibu akan menjadi landasan atau pondasi yang sangat kokoh bagi penyelesaian masalah sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang matang, berkualitas, percaya diri dan tidak ragu dalam bertindak.

Dengan tsaqofah yang dimilikinya, seorang ibu diharapkan mampu menciptakan iklim di rumah dengan kebiasaan-kebiasaan yang selalu mengaitkan dengan hukum syara’. Misalnya ketika anak-anak bertanya tentang pergaulan dengan lawan jenis, maka dengan kapasitas keilmuaannya seorang ibu bisa berhujjah dengan logis dan benar bahwa pacaran itu dilarang dalam agama, atau ketika memilih makanan, pilihlah makanan yang halal dan baik untuk kesehatan, atau jika anak-anak latah dengan perayaan valentines yang acap marak, ibu yang faham akan bisa mengarahkan anak-anaknya dan memberikan pengertian bahwasanya perayaan valentines itu adalah tasyabbuh, atau ketika anak-anak bingung dengan fenomena di negeri kita yang acapkali merayakan hari raya Idul Fitri berbeda, maka seorang ibu yang memiliki tsaqofah Islam yang baik mampu memberikan ketenangan dan keyakinan dengan keputusan yang diambil.

Selain itu, muslimah juga harus tanggap dan cermat dengan informasi-informasi global, berita-berita dunia keislaman atau perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat. Dengan demikian diharapkan mampu memberikan jawaban dengan analisa yang tajam dan mencerdaskan ketika anak-anak ataupun masyarakat umum melontarkan pertanyaan.

Ketiga, kekayaan amaliyah. Sia-sialah ilmu tanpa amal dan rusaklah amal yang tidak dilandasi oleh ilmu. Ilmu dan amal merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Setelah memiliki akidah yang benar dan tsaqofah yang luas, maka tidak akan berarti apa-apa jika semua itu tidak ada aplikasinya.

Sungguh, Allah SWT telah menguji kita dengan melihat siapakah yang terbaik amalnya. Sebagaimana firman-Nya: “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya” (Qs Al-Mulk 2).

Ihsanul ’amal (amal yang terbaik) hanya terwujud bila memenuhi dua syarat:

Syarat pertama adalah niat hanya karena Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung pada niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya” (HR Bukhari Muslim)

Dan syarat kedua adalah sesuai dengan sunnah Rasulullah, sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak” (Bukhari dan Muslim).

“Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak sesuai dengan urusan kami maka ia tertolak” (HR Muslim).

….Kepribadian Islam akan terbentuk dengan sendirinya ketika seorang muslimah mampu menjaga lisan, fikrah dan akhlaknya….

Muslimah yang paham tentu akan senantiasa berusaha untuk menjaga amal-amalnya agar menjadi amalan yang terbaik di sisi Allah SWT. Kepribadian Islam akan terbentuk dengan sendirinya ketika seorang muslimah mampu menjaga lisan, fikrah dan akhlaknya, sehingga keberadaannya sebagai bagian dari interaksi sosial akan menjadi figur yang diteladani.

Sebagai istri, keberadaannya tidak saja sebagai mitra untuk saling mengingatkan dalam kebenaran tetapi lebih dari itu, dengan amaliyah dan ketaatannya yang sungguh-sungguh akan menjadi penyejuk sekaligus motivasi yang luar biasa bagi suami untuk semakin meningkatkan kedekatannya kepada Allah SWT.

Dan bagi anak-anaknya, ibu yang selalu terjaga amal-amalnya akan menjadi contoh nyata yang paling dekat, yang akan ditiru dan diikuti karena mereka menyaksikan ibunya tidak hanya memiliki pola aqliyah (pemikiran) yang cemerlang tetapi juga menjunjung tinggi pola nafsiyah (perilaku) yang islami dalam setiap tindak tanduknya.

Hayo, sama-sama kita jaga kekayaan yang luar biasa ini. Mulai dari yang paling kecil, mulai dari diri sendiri dan mulailah dari detik ini juga.

Jangan puas dalam mencari ilmu, perbanyak silaturahmi dan pilihlah lingkungan yang baik, karena sesungguhnya tingkat keimanan itu berfluktuasi. Mudah-mudahan dengan lingkungan yang selektif, menyambung silaturahmi dengan orang–orang shalih, maka akidah, tsaqofah dan amaliyah kita tetap terjaga dari virus-virus yang bisa merusaknya, dan kita bisa senantiasa istiqamah di jalan Allah hingga akhir zaman. Wallahu a‘lam bis-shawab. [voa-islam.com]

Share this post..

Selanjutnya

 
Walau Pahit, Ternyata Pare Sangat Berguna Untuk Kesehatan Meski pahit, sayur ini sebenarnya sangat baik untuk kesehatan. Apa saja manfaat kesehatan pare? Berikut beberapa di antaranya...

Jual Tanah di Jakarta

Tanah Dijual 5.025 m2, Lokasi Strategis, Pinggir Jalan, 5 menit ke pintu tol Bintara. Cocok untuk dibangun Town House, Sekolah, Rumah Sakit, dll

Ayah Ibu, Bergabunglah dengan Kami

Menjelajahi samudera kehidupan untuk membina keluarga yang berpegang teguh pada sendi agama, juga bagi para aktifis muslimah agar semakin teguh berjalan di jalan-Nya.

Belajar Kristologi

Index Kesalahan Alkitab: Buku Panduan Belajar Kristologi Kilat dan Praktis, Menjawab Berbagai Hujatan Pendeta terhadap Islam

Indo Islamic Store

Best Muslim Choice, grosir/eceran: Herbal pasutri, herbal wanita, habbatus sauda, kosmetik halal, Gamis Muslimah, MTR 22 in 1
http://indoislamicstore.com

Baju Muslim

Baju Muslim Termurah! Gamis mulai Rp 41.000. Kaos Mulai 22.000 Mukena mulai Rp 29.000. Belanja sekarang sebelum kehabisan.
http://busanatanahabang.com/

Jual Propolis Melia Harga Grosir

Hanya Rp 400.000/box (isi 7 botol). Herbal terkenal untuk ikhtiar obati banyak penyakit. Garansi asli!
http://propolispropolis.blogspot.com/

Etalase VOA ISLAM

Menyediakan buku-buku Islam, buku kristologi, dan kebutuhan muslim lainnya
http://shop.voa-islam.com/

Peluang Usaha Kebab, No Franchise Free Royalty

Mencari investasi yang menguntungkan? Dengan modal awal hanya Rp 13jt anda telah memiliki kios kebab lengkap, BEP 6-7 bulan.

Cerpen "Cahaya Ilahi Dari Gaza Untuk Insan Atheis"

Cerpen Inspiratif. Memuat Kisah-kisah Dakwah Menggugah Hati, Menyentuh Emosi, Menebar Motivasi. Setting cerita lintas negara: Indonesia, Hong Kong, Palestina, Pakistan dan Afghanistan.

Selanjutnya

 
3 Korban Tewas Ahmadiyah Su'ul Khatimah, Ini Dalilnya! Bentrokan Umat Islam dengan Ahmadiyah di Banten Ahad lalu masih menyisakan kontroversi, Yaitu tentang status tiga orang anggota jemaat Ahmadiyah yang tewas sebagai syahid ataukah tidak?...
3 Korban Tewas Ahmadiyah Su'ul Khatimah, Ini Dalilnya!

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.

Bentrok berdarah antara warga muslim dengan jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, Ahad 6 Februari 2011 lalu menyisakan kontrofersi. Yaitu tentang status tiga orang anggota jemaat Ahmadiyah yang tewas dalam bentrokan tersebut karena membela keyakinannya, gugur mereka sebagai syahid ataukah tidak?

Menurut Juru Bicara Jamaah Ahmadiyah Indonesia, Zafrullah Ahmad Pontoh, tiga anggotanya yang tewas dalam penyerangan Ahad lalu, mati syahid. "Pemuda kami mati syahid, mereka mempertahankan aset Ahmadiyah," kata Zafrullah Pontoh, juru bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia, saat mengadu ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Selasa (8/2/11).

Sedangkan menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak mengkategorikan ketiga jemaah Ahmadiyah tersebut mati syahid. Sebab, MUI berpendapat mereka tidak sedang berjuang membela agama Islam.

“Mereka tidak termasuk mati syahid. Karena orang yang mati syahid adalah orang yang berjuang di jalan Allah. Kalau mereka kan berjuang untuk Mirza Ghulam Ahmad,” kata Ketua MUI Ahmad Chalil Ridwan kepada okezone, Selasa (8/2/2011).

Keutamaan Mati Syahid

Syahid di medan jihad memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam. Al-Qur'an dan Sunnah telah banyak menyebutkan keutamaannya. Para sahabat dan ulama salaf telah berlomba untuk mendapatkannya.

Al-Qur'an menyebutkan bahwa kesyahidan merupakan anugerah nikmat dari Allah bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Anugerah ini menghantarkan pemiliknya kepada kesempurnaan hidup, keberuntungan dan kebahagiaan. Allah berfirman:

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. Al Nisaa: 69)

Maksud syuhada' pada ayat di atas, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Abdurrahman al-Sa'di, adalah orang-orang yang berperang fi sabilillah untuk meninggikan kalimat Allah, lalu mereka terbunuh. Kemudian di akhir ayat, Allah menyebutkan bahwa mereka adalah teman terbaik di surga bagi orang yang senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Orang yang mati syahid merupakan manusia yang paling tinggi kedudukannya. Pahala amalnya tetap mengalir sehingga ia dibangkitkan. Bau darahnya sewangi kesturi. Arwahnya ditempatkan di surga Firdaus yang tertinggi di dalam tembolok burung hijau. Baginya ada lentera-lentera yang tergantung di 'Arsy. Mereka bebas menikmati surga sekehendak mereka, kemudian singgah pada lentera-lentera itu. Kemudian Rabb mereka memperlihatkan diri kepada mereka dengan jelas, dan kemuliaan-kemuliaan lain bagi para syuhada’.

Apakah Mati di Atas Keyakinan Ahmadiyah Syahid?

Syahid adalah orang beriman yang berperang di bawah bendera Islam (di jalan Allah) untuk meninggikan kalimat-Nya sehingga dia gugur di tangan musuh atau meninggal karena penyakit dan lainnya dalam perjalan jihad fi sabilillah.

Kesyahidan dalam perjuangan fi sabilillah merupakan kesyahidan tertinggi. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan beberapa macam kesyahidan bagi umatnya. Dan menyebutkan pada urutan pertamanya, “Siapa yang terbunuh di jalan Allah adalah syahid. Dan siapa yang meninggal di jalan Allah dia syahid. . . ” (HR. Muslim)

Mereka itulah yang disebut dengan syahid dunia-akhirat, yaitu: orang yang terbunuh dikarenakan berperang melawan orang kafir untuk meninggikan kalimat Allah dengan tanpa nifak, riya’ (pamer), menilap ghanimah. Dan ini merupakan kesyahidan yang sempurna, kesyahidan paling mulia dan baginya pahala yang besar. (Lihat: al-Jihad Sabiluna, Abdul Baqi Ramdhun, hal. 155)

Syarat utama dari syahid ini adalah mereka yang berjuang di jalan Allah dan bertujuan untuk meninggikan kalimat-Nya. Dan ini merupakan syarat sahnya jihad yang bisa menghantarkan kepada kesyahidan. Ada seorang Badui datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menanyakan tentang orang yang berjihad di jalan Allah, lalu beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, “Siapa yang  berperang dengan tujuan supaya kalimat Allah-lah yang tertinggi maka dia fi sabilillah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan jemaat Ahmadiyah yang berperang membela agama dan keyakinanya yang kufur, maka mereka bukan fi sabilillah. Tapi fi sabilit taghut (jalan taghut, yakni siapa yang melampaui batas). Maka dalil yang pantas untuk mereka adalah:

الَّذِينَ آَمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. Al-Nisa’: 76)

Orang-orang beriman berperang dalam ketaatan kepada Allah dan mencari ridha-Nya. Berperangnya mereka karena tuntutan iman dan pembelaan kepada keyakinannya. Sedangkan orang-orang kafir (di antaranya yang murtad seperti Ahmadiyah yang meyakini ada nabi sesudah Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam) berperang dalam rangka mentaati syetan yang menyeru untuk menyimpang dari jalan Islam. Maka berperangnya ini termasuk cabang kekufuran dan tuntutan dari kekufuran yang diyakininya.

Jemaat Ahmadiyah yang berperang membela agama dan keyakinanya yang kufur, maka mereka bukan fi sabilillah. Tapi fi sabilit taghut . . .

Perang mereka untuk membela keyakinan yang bertentangan dengan sharih nash Al-Qur’an dan sunnah yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah penutup para Nabi. Sedangkan siapa saja yang berkata ada Nabi sesudahnya, dia murtad (keluar) dari Islam. Karena berarti dia telah mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah shahih yang sangat jelas menerangkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penutup para nabi. (Lebih lengkapnya silahkan baca: Ahmadiyah Murtad & Dimusuhi Karena Ajarkan Ada Nabi Lagi Sesudah Muhammad)

Menyimpang dari Akidah, Mati Su’ul Khatimah

Sebab utama seseorang mati su’ul khatimah (akhir hayat yang buruk) adalah karena rusaknya akidah. Siapa saja yang meyakini akidah yang berseberangan dengan akidah yang shahih, baik atas penalarannya sendiri atau mengambil dari orang yang berakidah batil, maka tetap berada dalam lingkup bahaya. Kezuhudan dan keshalihan tidak sedikitpun membawa manfaat baginya. Dan sesungguhnya yang bisa mendatangkan kebaikan pada dirinya adalah akidah yang benar, yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallaahu 'alaihi wasallam. Karena akidah dalam Islam tidak dianggap kecuali yang berasal dari keduanya.

Maka Jemaat Ahmadiyah yang memiliki keyakinan yang  berseberangan dengan akidah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, bahkan keyakinan tersebut merupakan keyakinan pokok yang tidak boleh di tawar lagi, meninggalnya mereka itu seperti yang disebutkan oleh Allah Ta’ala,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

 Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

Matinya tiga orang jemaat Ahmadiyah di Cikeusik bukan sebagai syahid, tapi su'ul khatimah... Karena mereka memiliki keyakinan yang  berseberangan dengan akidah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, bahkan keyakinan tersebut merupakan keyakinan pokok yang tidak boleh di tawar lagi,

Kesimpulan

Perjuangan jemaat Ahmadiyah bukan fi sabilillah, tapi fi sabilit taghut. Karenanya tewasnya tiga jemaat Ahmadiyah dalam bentrokan berdarah di Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, Ahad (6/2/11) lalu bukan sebagai syahid.

Maka sangat tepat pernyataan yang dikeluarkan oleh ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Chalil Ridwan: “Mereka tidak termasuk mati syahid. Karena orang yang mati syahid adalah orang yang berjuang di jalan Allah. Kalau mereka kan berjuang untuk Mirza Ghulam Ahmad.”

Gelar yang pantas untuk mereka adalah su’ul khatimah, karena mereka meninggal di atas  keyakinan yang batil yang mengeluarkan dari Islam. Mereka meyakini ada nabi (yakni Mirya Ghulam Ahmad) sesudah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Padahal Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih dengan jelas menerangkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah nabi terakhir, tidak ada nabi dan rasul sesudahnya. Wallahu Ta’ala a’lam. . . [PurWD/voa-islam.com]

Tulisan Terkait:

  1. Ahmadiyah Murtad & Dimusuhi Karena Ajarkan Ada Nabi Lagi Sesudah Muhammad
  2. Korban Tewas Jemaat Ahmadiyah Bukan Syahid Karena Tidak di Jalan Allah
  3. Bentrokan Cikeusik Terjadi Karena Jemaat Ahmadiyah Menantang dan Bacok Warga
  4. Kapolri: Bentrok Terjadi Karena Ahmadiyah Tolak Dievakuasi Polisi

Share this post..

Selengkapnya

 
Umat Muslim Haram Merayakan Valentine's Day Budaya perayaan Valentine's Day telah menjarah umat Islam, khususnya para remaja. Padahal perayaan itu merupakan budaya kafir yang haram ditiru. Karena siapa menyerupai kaum, dia bagian darinya....
Umat Muslim Haram Merayakan Valentine's Day

Oleh: Ust. Zen Yusuf Al Choodlry

Fenomena perayaan Valentine's Day tidaklah terlalu asing di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan kota-kota lainnya. Para remaja, walau baru kelas satu SMP, sudah mengenal budaya setan ini. Mereka biasa merayakannya dengan mengadakan lomba saling merayu antara lawan jenis, saling memberikan bunga dan hadiah kepada pacarnya, mengadakan pesta musik yang terkadang disertai minuman keras tanpa mempedulikan terjadinya percampuran pria dan wanita non-mahram. Bahkan, acara ini oleh mereka dijadikan ajang untuk mengekspresikan hawa nafsu kepada lawan jenis, misalnya mencium pipi, memegang tangan, sampai melakukan perbuatan yang kelewat batas, naudzu billahi min dzalik. Lucunya, perayaan ini pun rupanya tidak hanya dilakukan oleh anak muda. Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan tante-tante pun tidak ketinggalan 'bertaklid' merayakan budaya sesat ini.

Lebih memprihatinkan lagi, budaya ini telah menjarah remaja Islam, remaja yang diwanti-wanti oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam untuk selalu mengikat perilakunya dengan ajaran Islam dan tidak membebek kepada cara hidup orang kafir, malah larut dalam perayaan jahiliah ini dengan meninggalkan akidah Islam.

    Budaya perayaan Valentine's Day telah menjarah remaja Islam . . .membebek kepada cara hidup orang kafir dalam perayaan jahiliah ini dengan meninggalkan akidah Islam.

Mereka yang melakukan perayaan ini berdalih dengan kasih sayang. Padahal, pesta semalam suntuk dalam rangka ber-Valentine's Day diikuti dengan perbuatan dan tindakan yang bertentangan dengan moral dan agama (khususnya agama Islam) tidak akan melahirkan kasih sayang yang sejati. Kasih sayang yang dilahirkannya hanyalah kasih sayang semu dan palsu. Bukan kasih sayang, mungkin lebih tepat disebut hawa nafsu.

    Ber-Valentine's Day tidak akan melahirkan kasih sayang yang sejati. . . Bukan kasih sayang, mungkin lebih tepat disebut hawa nafsu.

Sejarah Singkat Valentine's Day

Valentin, atau Valentinus yang di Indonesia beberapa waktu terakhir ini mulai dipopulerkan secara luas dengan istilah Valentin (tanpa e atau huruf s) sebetulnya nama seorang martir (orang Kristen yang terbunuh karena mempertahankan ajaran agama yang dianutnya). Valentin yang sebenarnya adalah nama seorang tokoh agama Kristen yang karena kesalehan dan kedermawanannya diberi gelar Saint atau Santo disingkat dengan St., yang mempunyai tempat istimewa di dalam ajaran agama ini. Panggilan atau gelar ini dilekatkan pula kepada tokoh Kristen yang lainnya, seperti St. Paul, St. Peter, St. Agustine dan sebagainya. St. hanya dihubungkan dengan nama seorang penganjur dan pemimpin besar agama Kristen, dan karena itu tidak dapat diberikan kepada sembarang pemeluk agama ini, yang tingkat keagamaannya masih rendah.

St. Valentin ini karena pertentangannya dengan Kaisar CLAUDIUS II, penguasa Romawi pada waktu itu, berakhir dengan pembunuhan atas dirinya pada abad ketiga, tepatnya pada tanggal 14 Februari tahun 270 Masehi. Menurut kepercayaan Kristen, kematian Valentin ini dikategorikan martir membela agamanya, sebagaimana orang Islam menyebut syahid bagi seorang muslim yang terbunuh di medan jihad.

Kematian yang tragis, kesalehan, dan kedermawanan Valentin ini tidak dapat dilupakan oleh para pengikutnya di belakang. Valentine dijadikan simbol bagi ketabahan, keberanian, dan kepasrahan seorang Kristen menghadapi kenyataan hidupnya. Namanya dipuja dan diagungkan dan hari kematiannya diperingati oleh pengikutnya dalam setiap upacara keagamaan yang dianggap sesuai dengan peristiwa tragis itu. Upacara peringatan yang pada mulanya bersifat religius itu dimulai pada abad ketujuh Masehi dan berlangsung sampai abad keempat belas, dan setelah abad itu signifikansi keagamaannya mulai hilang dan tertutup oleh upacara dan ceremony yang non-agamis.

Hari Valentin, sebagaimana dikatakan di atas, adalah hari kematian Valentine yang kemudian diperingati oleh para pengikutnya setiap tanggal 14 Februari. Kemudian hari Valentine ini dihubungkan pula dengan pesta atau perjamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut supercalia yang biasanya jatuh pada tanggal 15 Februari. Setelah orang Romawi masuk Kristen, maka pesta supercalia itu secara religius dikaitkan dengan kematian atau upacara kematian St. Valentine.

Penerimaan Valentine sebagai model kasih sayang tulus diduga seperti berasal dari kepercayaan orang Eropa, bahwa masa kasih sayang mulai bersemi bagi burung jantan dan burung betina pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya. Perkiraannya atau kepercayaannya ini lalu berkembang menjadi pengertian umum bahwa sebaiknya pihak pemuda mencari seorang pemudi (wanita) untuk menjadikan pasangannya dan sebaliknya pada tanggal tersebut. Bersamaan dengan itu, mereka menyarankan untuk saling tukar tanda mata atau cadeau (kado) sebagai lambang terbinanya kasih sayang di antara mereka. Namun, Valentine ini lebih dipopularkan lagi oleh orang-orang Amerika dalam bentuk greeting card (kartu ucapan selamat) terutama sejak berakhirnya Perang Dunia I.

    Valentine ini lebih dipopularkan lagi oleh orang-orang Amerika dalam bentuk greeting card (kartu ucapan selamat) terutama sejak berakhirnya Perang Dunia I.

Hukum Merayakan Valentine's Day

Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikiran. Apalagi, bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syiar dan kebiasaan. Padahal, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, artinya, "Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut." (HR At-Tirmizi).

Abu Waqid meriwayatkan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat keluar menuju Perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat berkata, 'Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, 'Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.' Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian'." (HR At-Tirmizi, ia berkata, hasan sahih).

Berkasih-sayang versi valentinan ini haruslah diketahui terlebih dahulu hukumnya, lalu diputuskan apakah akan dilaksanakan atau ditinggalkan. Dengan melihat dan memahami asal-usul serta fakta pelaksanaan Valentine's Day, sebenarnya perayaan ini tidak ada sangkut pautnya sedikit pun dengan corak hidup seorang muslim. Tradisi tanpa dasar ini lahir dan berkembang dari segolongan manusia (kaum/bangsa) yang hidup dengan corak yang sangat jauh berbeda dengan corak hidup berdasarkan syariat Islam yang agung.

Sangat jelas bahwa Valentine Day adalah budaya orang kafir, yang kita (umat Islam) dilarang untuk mengambilnya. Kita dilarang menyerupai budaya yang lahir dari peradaban kaum kafir, yang jelas-jelas bertentangan dengan akidah Islam. Sungguh, ikut merayakan hari valentin adalah tindakan haram dan tercela.


    Valentine Day adalah budaya orang kafir, yang kita (umat Islam) dilarang untuk mengambilnya.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata, "Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, "Selamat hari raya" dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalaupun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan, perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala dan lebih dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid'ah, atau kekufuran. Padahal, dengan itu ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala."

    . . . Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram . . . . 

Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin ketika ditanya tentang Valentine's Day mengatakan, "Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena alasan berikut. Pertama, ia merupakan hari raya bid'ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syariat Islam. Kedua, ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf saleh (pendahulu kita)--semoga Allah meridhai mereka. Maka, tidak halal melakukan ritual hari raya mereka, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah, ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup) yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan semoga meliputi kita semua dengan bimbinga-Nya."

Mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup orang kafir akan membuat mereka senang dan dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Allah berfirman (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Maidah: 51).

"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya." (QS. Al-Mujadilah: 22)

    Mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup orang kafir akan membuat mereka senang dan dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam surga yang hamparannya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan dalam hadis Qudsi, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya, "Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, saling berkorban karena Aku, dan yang saling mengunjungi karena Aku." (HR Ahmad). Wallahu a'lam.

Sumber:

1. The standart International Dictionary, jilid 18 halaman 5090. The Encyclopedia Americana, jilid 27 halaman 859. (dari www.isnet.org/archive-milis/archive99).
2. Valentine's Day Bukan Ajaran Islam, Drs. Nur'i Yakin Mch, SH, M.Hum.
3. www.alsofwah.or.id
4. www.hidayatullah.com
[PurWD/voa-islam.com]

Share this post..

Selengkapnya

 
Ikuti Budaya Orang Kafir, Maka Akan Seperti Mereka Orang kafir berada di atas kesesatan. Maka mengikuti mereka, akan tersesat seperti mereka. Valentine's Day bagian dari budaya mereka, maka umat Islam tidak boleh ikut-ikutan merayakannya....
Ikuti Budaya Orang Kafir, Maka Akan Seperti Mereka

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat yang paling agung, yaitu nikmat Islam. Nikmat ini tidak bisa ditandingi oleh nikmat-nikmat yang lain. Dengannya, kita berada di atas petunjuk. Mengamalkannya akan menghantarkan kepada keselamatan dan kebahagiaan dunia-akhirat.

Karenanya, kita harus senantiasa bersyukur atas nikmat ini dengan menjaganya dan memohon keteguhan dalam berpegang teguh dengannya hingga kematian menjemput. Karena Allah telah membuat satu adat kebiasaan, bahwa siapa yang hidup di atas sesuatu maka ia akan wafat di atasnya, dan siapa yang mati di atas sesuatu maka ia akan dibangkitkan sesuai dengan kondisi saat itu. “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Janganlah ada kesengajaan berpaling dari Islam, karena akan membuat rugi dunia-akhirat.

Sesungguhnya musuh-musuh Islam senantiasa berusaha merusak nikmat yang agung ini dengan berbagai cara dan dengan segenap kekuatan yang dimilikinya. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. Al-Taubah: 32)

Mereka hendak menjadikan kaum muslimin kafir, sebagaimana mereka telah kafir. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).” (QS. Al-Nisa’: 89)

Sesungguhnya musuh-musuh Islam senantiasa berusaha merusak nikmat yang agung ini dengan berbagai cara dan dengan segenap kekuatan yang dimilikinya. Dan hendak menjadikan kaum muslimin kafir, sebagaimana mereka telah kafir.

Usaha mereka untuk menghancurkan Islam tersebut sudah dimulai sejak era Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu era Khulafa’ rasyidin, dan dilanjutkan pada era-era sesudahnya hingga zaman kita sekarang. Senjata yang mereka gunakan sangat beragam seperti ekonomi, budaya, atau kekuatan militer, dan yang lainnya. Namun tujuannya yang mereka inginkan sama, yaitu menghancurkan Islam dan memurtadkan kaum muslimin darinya.

Kesimpulan ini bukan tanpa alasan atau tuduhan yang tidak berdasar. Tapi, dengan kabar berita dan peringatan yang telah Allah sampaikan kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Bahkan Kabar tersebut menyebutkan, kelompok yang ingin merusak Islam bukan dari satu kelompok saja, tapi juga dari kalangan musyrikin, Yahudi, Nasrani, Atheis, dan dari kaum munafikin.

Allah berfirman tentang permusuhan kaum musyrikin,

وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 217)

Allah menerangkan tentang permusuhan Yahudi dan Nasrani terhadap kaum muslimin,

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah; 120)

Yahudi dan Nasrani berusaha untuk mengajak kaum muslimin untuk mengikuti ajaran mereka (di antaranya adalah budaya dan tradisi mereka), dan berusaha mempropagandakannya kepada umat Islam.

وَقَالُوا كُونُوا هُوداً أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah: "Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik".” (QS. Al-Baqarah: 135)

Allah juga menyingkap permusuhan kaum munafikin kepada Islam dan kaum muslimin,

فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلاً

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barang siapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.” (QS. Al-Nisa’: 88)

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاء

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).” (QS. Al-Nisa’: 89)

Allah menjelaskan secara umum tentang tabiat orang-orang kafir dan memperingatkan kaum mukminin akan tipu daya mereka,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ () بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” (QS. Ali Imran: 149-150)

Penjelasan di atas merupakan kesaksian Allah atas musuh-musuh Islam terhadap tujuan dan keinginan mereka untuk menyesatkan kaum muslimin dan menghalangi mereka dari agamanya, supaya umat Islam sepakat dengan kekafiran mereka. kesaksian ini untuk menyelamatkan kaum muslimin dari tipu daya dan niat buruk musuh-musuh mereka. “Allah menerangkan (semua ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Nisa’: 176)

Pada zaman sekarang, banyak manusia tertipu dengan propaganda dan bujukan kaum kuffar. Banyak kaum muslimin yang terpukau dengan kemewahan dan kemajuan yang dimiliki orang-orang kafir. Sehingga tidak sedikit umat Islam yang membebek, meniru, dan menjalin kasih sayang dengan orang-orang yang dimurkai Allah Ta’ala. Padahal Allah telah memperingatkan,

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (QS. Al-Taubah: 55)

Sedangkan siapa yang menjalin kasih sayang dengan orang kafir, bukan bagian dari orang beriman. Allah Ta’ala berfirman,

لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَه وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Namun dalam realita, kita dapatkan banyak tokoh dan pemimpin yang beragama Islam mengucapkan selamat kepada kaum kuffar atas hari raya mereka. Padahal hal ini, -sebagaimana yang disebutkan Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah- termasuk perbuatan yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam jika dia ridha dengan kekafiran mereka. Atau yang lebih rendah dari itu, dia telah melakukan perbuatan haram (dosa besar) karena memberi selamat kepada orang yang bermaksiat. Bahkan dosa mengucapkan selamat atas hari raya orang kafir itu lebih besar dosanya daripada mengucapkan selamat meminum arak, membunuh, dan melakukan zina.

Seharusnya keridhaan seorang muslim dan kebenciaannya mengikuti keridhaan Allah 'Azza wa Jalla. Sedangkan Allah tidak meridhai kekufuran, maka seharusnya dia juga tidak menunjukkan keridhaan terhadap kekufuran tersebut dan juga syi’ar-syi’arnya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Al-Zumar: 7)

Salah satu dari budaya kafir yang banyak digandrungi umat Islam, khususnya dari kalangan remaja adalah Hari Valentin. Yakni sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya –pada awalnya ini hanya berlaku di Dunia Barat-. Hari ini dirayakan setiap tanggal 14 Februari.

Sesungguhnya hari perayaan kasih sayang ini merupakan bagian dari hari raya Katolik Roma. Bahkan dalam Wikipedia disebutkan bahwa hari valentine merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal. Karenanya tidak diragukan lagi akan haramnya ikut-ikutan merayakan hari Valentin dengan mengungkapkan ucapan cinta dan memberikan hadiah, walaupun itu dilakukan sepasang suami istri. Apalagi kalau hal tersebut dikerjakan oleh mereka yang belum terikat status suami istri.

Sesungguhnya hari perayaan kasih sayang ini merupakan bagian dari hari raya Katolik Roma. Bahkan dalam wikipedia disebutkan bahwa hari valentine merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal.

Karenanya tidak diragukan lagi akan haramnya ikut-ikutan merayakan hari Valentin dengan mengungkapkan ucapan cinta dan memberikan hadiah, walaupun itu dilakukan sepasang suami istri.

Dalam tulisan Ust. Zen Yusuf Al Choodlry (teman dekat penulis) yang diposting voa-islam.com telah disebutkan tentang hukum merayakan Valentine's Day. Perayaan itu merupakan budaya orang kafir, yang kita (umat Islam) dilarang untuk mengambilnya. Kita dilarang menyerupai budaya yang lahir dari peradaban kaum kafir yang jelas-jelas bertentangan dengan akidah Islam. Sungguh, ikut merayakan hari valentin adalah tindakan haram dan tercela.

Sesungguhnya mengekor terhadap gaya hidup orang kafir akan membuat mereka senang dan dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmizi. Imam Shan’ani dalam Subul al-salam mengungkapkan, hadits ini memiliki banyak penguat sehingga mengeluarkannya dari kedhaifannya).

Tentang makna hadits ini, ada dua ulasan yang mashur dari banyak ulama. Makna pertama, bahwa siapa yang menyerupai orang kafir dalam dzahirnya, maka akan bisa menyebabkan keserupaan dalam batinnya, yakni dalam akidah dan keyakinan. Maknanya, siapa yang menyerupai orang kafir secara dzahir maka perbuatan itu akan membimbingnya untuk menyerupai orang kafir secara batin, lalu ia menjadi kafir sebagaimana mereka. Dan kita berlindung kepada Allah dari menjadi golongan mereka.

Makna kedua, siapa yang menyerupai orang kafir secara dzahir, maka ia bagian dari mereka dalam hal yang ia lakukan itu, bukan pada yang selainnya. Jika yang ditiru adalah kekufuran maka ia menjadi kufur, jika maksiat maka dosanya adalah maksiat.   Namun, ‘ala kulli hall seorang muslim sama sekali tidak boleh sengaja dan ridha untuk menyerupai orang-orang kafir dalam kesesatan mereka. wallahu Ta’ala a’lam. (PurWD/voa-islam.com)

Tulisan Terkait:

1. Umat Muslim Haram Merayakan Valentine's Day

2. Rayakan Valentine's Day, Meniru Orang kafir..!!

3. Say No To Valentine Day !

4. Valentine's Day, Gak Keren..!!

5. Atas Nama Cinta, Jangan Dekati Zina!

 

    Share this post..

    Selengkapnya

     
    Fatwa Ulama ٍٍSedunia Tentang Kesesatan Ahmadiyah Sesugguhnya para ulama islam di negeri Arab dan benua India telah sepakat dalam kekafiran Al-Qadiyaniah...
    Fatwa Ulama ٍٍSedunia Tentang Kesesatan Ahmadiyah

    Sesugguhnya para ulama islam di negeri Arab dan benua India telah sepakat dalam kekafiran Al-Qadiyaniah diantaranya perwakilan dari organisasi Islam yang menghadiri konferensi Rabithah Alam Islamy yang diadakan di Mekkah tahun 1394 H dan mereka mengumumkan kekafiran Al-Qadiyaniah termasuk Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa (Lajnah Daimah) Saudi Arabia dan Lembaga Ulama Senior Saudi Arabia dan Mujamma Fiqih yang menginduk kepada Rabithah dan Mujamma Fiqih Islam yang menginduk kepada Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan Mujamma Riset Islam di Al-Azhar.

    Diantara pemimpin umat dari kalangan ulama yang memfatwakan kekafiran mereka adalah Syeikh Bin Bazz, Syeikh Jadul Haq Syeikhul Azhar, Syeikh Al-Albani dan Syeikhul Al-Maududi rahimahumullah.

    Sebagaimana Parlemen Pakistan telah mengeluarkan keputusan bahwa mereka kelompok minoritas non-muslim dan saat itu sandaran para ulama dalam kekafiran mereka adalah ucapan Al-Qadiyaniah yang mendustakan isi Al-Qur’an dan menyelewengkan maknanya yang bertentangan ijma umat, seperti mereka telah mengingkari kebanyakan sifat-sifat Allah dan mengingkari kehidupan Nabi Isa as, turunnya dan diangkatnya beliau ke langit, sebagaimana mereka mengingkari  penutup para Nabi dan mengklaim bahwa pemimpin mereka adalah nabi yang mendapat wahyu.

    Ucapan Al-Qadiyaniah dalam perkara ini semua dapat ditemukan dalam buku-buku Ghulam Ahmad Al-Qadiyani, sebagaimana ucapan Mujamma dan Lembaga-lembaga disebutkan  di atas ada dan tersebar maka tidak ada yang perlu diragukan lagi, termasuk bagaimana sebenarnya biographi Mirza Ghulam Ahmad yang penuh kontroversi sehingga tidak pantas dianggap sebagai seorang nabi atau bahkan imam mahdi sekalipun.

    (ar/voa-islam.com)

     

     

     

     

    Share this post..

    Selengkapnya

     
    Apa Hukumnya Bekerja Dengan Media Yang Jelas Anti Islam? Apa hukumnya bekerja di media secara umumnya, baik itu cetak, audio, visual atau elektronik atau media yang memusuhi Islam misalnya?...
    Apa Hukumnya Bekerja Dengan Media Yang Jelas Anti Islam?

    Pertanyaan:

    Apa hukumnya bekerja di media secara umumnya, baik itu cetak, audio, visual atau elektronik sebagaimana dimaklumi bahwa pekerja dalam lahan media masa hampir tidak bisa terlepas dari syubhat-syubhat yang menyesakkan dada, seperti bekerja di beberapa situs-situs yang memusuhi Islam misalnya?

    Jawaban:

    Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah kepada baginda Rasulullah kepada keluarganya, para shahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:

    Kongres Para Ahli Fikih Syariah Amerika dalam daurah terakhir kelima yang diadakan pada bulan November 2007 telah membahas permasalahan ini dan memutuskan sebagai berikut:

    Media di masa ini dianggap sebagai sarana utama untuk mentransfer pengetahuan dan pemikiran dan perilaku diantara manusia dan generasi yang selanjutnya, dan berperan dalam membentuk pemikiran masyarakat dan kebudayaannya serta menjaga akhlaknya, sebagaimana juga berperan dalam mengarahkan pendapat umum dan mengambil keputusan dalam setiap sendi kehidupan.

    Media masa juga merupakan salah satu sarana dakwah islam yang asasi yang harus dimanfaatkan oleh  kaum muslimin secara umumnya dan para dai secara khususnya di setiap zaman dan tempat.

    Dan hukum media masa pada dasarnya boleh dan berlaku padanya hukum syar’ie yang lima: wajib, sunah, mubah, makruh dan haram. Itu bergantung kepada maklumat yang disampaikan, sarana yang digunakan, pengaruh yang ditimbulkan.

    Dan hal itu tentunya dengan panduan-panduan sebagai berikut:

    Pertama: verifikasi maklumat yang diberikan sebelum disiarkan dan menghindari gosip.

    Kedua: komitmen dalam menjaga kejujuran dan obyektivitas dalam mentransfer maklumat.

    Ketiga: menghormati sikap dan etika Islam dalam menyajikan maklumat.

    Keempat: menghormati privasi dimana tidak menyebarkan kecuali jika diizinkan pemiliknya atau akan mendatangkan maslahat umum yang nyata ketika disebarkan.

    Kelima: tidak boleh menerbitkan informasi apapun – meskipun benar atau telah mendapat izin dari pemilik - jika mengakibatkan kejahatan di mata Islam.

    Keenam: menyebarkan informasi melalui sarana yang syar’ie, dan menghindari sarana yang dilarang dalam Islam.

    Ketujuh: menghindari bekerja di institusi yang terkenal permusuhan mereka kepada Islam jika pekerjaannya mengandung dukungan terhadap kezaliman dan agresi mereka.

    Kedelapan: menghindari bekerja di institusi yang menjalankan aktivitas yang dilarang oleh Islam seperti majalah atau saluran khusus yang mempromosikan kecabulan dan amoralitas.

    Kesembilan: komitmen wanita muslimah untuk menjaga ketentuan hijab Islam, dan tidak berkhalwat, dan tidak untuk bepergian tanpa mahram atau rekan-rekan yang dipercaya, dan hendaklah wanita bekerja sesuai dengan fitrah dan tabiat komposisinya, dan hukum dan adab-adab Islam lainnya.

    Adapun bekerja dalam institusi yang jelas-jelas memusuhi Islam maka hukumnya haram berdasarkan firman Allah Ta’alaa yang artinya:

    Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya” [QS Al-Maidah: 2]

    Dalam ayat ini Allah Ta’alaa memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan seperti dalam menyebarkan Islam yang shahih dan murni serta tidak tolong menolong dalam dosa dan permusuhan apalagi bekerja dengan pihak yang jelas-jelas siang malam mengerahkan dana dan tenaganya untuk memusuhi dan menghancurkan Islam. Maka tentunya jauh lebih diharamkan.

    Bahkan tanpa disadari bahwa perbuatan tersebut barangkali dapat mengakibatkan seseorang keluar dari Islam naudzubillah min dzalika.

    Dikatakan oleh Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah: ”ketahuilah bahwa pembatal Islam yang terberat ada sepuluh ... kedelapan: membantu kaum musyrikin dan menolong mereka memerangi kaum muslimin dan dalilnya firman Allah Ta’alaa:  (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim) [QS Al-Maidah:51].(Lihat Ad-Durar As-Saniyyah: 10/92)

    Demikian pula pendapat ulama-ulama lain yang dapat dipercaya, mudah-mudahan Allah menjauhkan kita semua dari bencana yang terbesar yaitu keluarnya kita dari Islam setelah Allah Ta’alaa memberikan petunjuk bagi kita.

    Wallahu A’lam bishowab.

    (Diambil dari situs Islam.online dengan beberapa tambahan dan editan)

    (ar/voa-islam.com)

    Rubrik ini diasuh oleh Ust. Abu Roidah Lc dan Ust. Badrul Tamam
    Sampaikan pertanyaan seputar masalah agama ke ustadz@voa-islam.com

    Share this post..

    Selengkapnya

     
    Menuduh Raden Patah Sumber Musibah, Permadi Seperti Fir'aun Menuduh ajaran Islam sebagai sumber musibah bukan hanya saat ini, seperti tuduhan Permadi kepada Raden Patah. Tapi telah dilakukan para pendahulunya, Fir'aun dan kaum-kaum yang ingkar....
    Menuduh Raden Patah Sumber Musibah, Permadi Seperti Fir'aun

    Oleh: Badrul Tamam

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

    Komentar paranormal Permadi pada tayangan “Silet” di RCTI episode 7 November 2010, yang kental sentimen SARA terhadap Islam membuat panas telinga umat Islam sampai sekarang. Buktinya masih ada beberapa elemen umat yang meminta agar kasus tersebut dilaporkan kepada pihak berwajib. (Lihat: Tayangan Sentimen Sudutkan Islam, Polisi Harus Pidanakan 'Silet RCTI').

    Dalam tayangan “Silet” episode 7 November 2010, Permadi menyebut letusan Gunung Merapi akibat dari dosa besar Raja Demak, Raden Patah. Di antara dosa besar itu, kata Permadi, adalah kedurhakaan Raden Patah memaksa ayahnya yang bernama Brawijaya V untuk pindah agama, juga kedurhakaan kepada negara dan kedurhakaan kepada agama.

    “Pernyataan paranormal itu tentu mengandung unsur sentimen SARA. Raden Patah dan para wali beragama Islam, sementara Prabu Brawijaya V beragama Hindu. Raden Patah sebagai simbol kerajaan Islam seolah diposisikan sebagai pihak yang merusak, membawa bencana. Jelas, ini menyesatkan,” kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamet Effendy Yusuf,  Ahad (20/2/2011)

    Dampak dari penayangan program infotainment tersebut, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menerima 1.128 aduan dari masyarakat. Dan setelah dikaji, KPI menilai program infotainment “Silet” tersebut menyesatkan, mengandung unsur berita bohong dan meresahkan masyarakat.

    Menuduh Raden Patah Sumber Musibah, Permadi Seperti Fir'aun

    Kesamaan Komentar Permadi Dengan Komentar Fir’aun

    Komentar Permadi yang menuduh Raja Demak, Raden Patah yang mendakwahi orang tuanya agar masuk Islam sebagai sumber kesialan dan bencana erupsi Merapi tidak jauh berbeda dengan perkataan Fir’aun dan kaumnya. Allah menjelaskan, bahwa apabila datang kepada mereka kemakmuran dan rizki melimpah, mereka berkata: "Ini adalah karena (usaha) kami," (QS. Al-a’raf: 131). Mereka merasa bahwa semua kebaikan itu menjadi hak mereka, sehingga mereka tidak harus bersyukur kepada Allah.

    Namun jika mereka ditimpa keburukan seperti paceklik dan gagal panen ataupun tertimpa musibah maka mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya. Mereka beranggapan bahwa semua keburukan tersebut disebabkan kedatangan Musa dan kaum Bani Israil yang mengikutinya dengan ajaran Islam yang turun dari langit. Lalu Allah membantahnya,

    أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

     “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131)

    Maksudnya bahwa semua itu terjadi dengan qadha dan qadar Allah Ta’ala. Allah-lah yang mentakdirkan dan menentukan semua itu. Bukan dikarenakan Musa dan pengikutnya, seperti yang mereka katakan. Karena hakikat kehadiran Musa dan pengikutnya yang beriman dan menyeru Fir’an dan kaumnya untuk beriman kepada Allah menjadi sebab datangnya keberkahan dan kebaikan. Sementara dosa dan kekufuran merekalah yang menjadi sebab semua keburukan itu. Tetapi mereka jahil dan tidak mengetahuinya, sehingga mereka mengatakan apa yang telah mereka katakan.

    Sikap ngawur, mencari kambing hitam dan menyalah-nyalahkan wali Allah juga pernah ditunjukkan oleh penduduk negeri yang didatangi para rasul. Mereka melemparkan sebab nasib malang dan keburukan kepada para rasul tersebut yang datang mengajak beriman. Bahkan mereka mengancam agar dakwah dihentikan, “Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” (QS. Yaasin: 18)

    Kemudian para rasul membantah dakwaan mereka,

    قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

    Para utusan itu berkata: "Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas".” (QS. Yaasin: 19)

    Bahwa kesialan, musibah dan keburukan yang menimpa penduduk yang ingkar tadi adalah berasal dari (disebabkan) diri dan perbuatan mereka sendiri. Yaitu kesyirikan dan sikap ingkar mereka terhadap kebenaran yang dibawa para rasul tersebut. Jika mereka diajak beriman dan bertakwa mereka malah menentang, menjauh, dan menyombongkan diri.

    Sementara nasihat dan ajakan yang disampaikan para rasul tersebut membawa kebaikan dan kemashlahatan bagi mereka, jika mereka menyambut dan menerimanya. Allah Ta’ala berfirman,

    وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

    Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

    Sungguh ini merupakan keanehan yang luar biasa, kedatangan pada da’i (penyeru ke jalan Allah) untuk menyebarkan nikmat Allah dan memuliakan mereka dianggap sebagai biang keladi keburukan dan musibah. Padahal penolakan dan kesombongan mereka itulah yang menyebabkan musibah itu datang. Sebenarnya, jika dakwah Islam diterima maka akan membawa banyak keberkahan dan kebaikan, baik yang bersifat umum maupun khusus bagi person yang menyambutnya.

    Sungguh ini merupakan keanehan yang luar biasa, kedatangan pada da’i (penyeru ke jalan Allah) untuk menyebarkan nikmat Allah dan memuliakan mereka dianggap sebagai biang keladi keburukan dan musibah.

    Raja Demak Membawa Keberkahan dan Kebaikan

    Dakwah Raden Patah, raja Demak, kepada orangtuanya merupakan sikap yang sementinya dilakukan seorang anak yang sayang kepada orang tuanya, seperti sikap Nabi Ibrahim kepada bapaknya. “Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya: "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?. Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan".” (QS. Maryam: 42-45)

    Karena seorang muslim pasti meyakini bahwa surga hanya bisa dimasuki oleh jiwa yang muslim. Dan meninggal di luar Islam akan menyebabkan kekal di neraka.

    Allah Ta’ala berfirman,

    إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

    Sesungguhnya orang-orang yang kafir baik harta mereka maupun anak-anak mereka, sekali-kali tidak dapat menolak adzab Allah dari mereka sedikit pun. Dan mereka adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Ali Imran: 116) dan ayat semakna dengan ini sangat banyak.

    Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,  

    إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ

     “Sesungguhnya tidak akan masuk surge kecuali jiwa yang beragama Islam.” (Muttafaq ‘Alaih)

    Ini merupakan nash yang sangat jelas, bahwa orang yang mati di atas kekafiran tidak akan pernah sama sekali masuk surga. Dan nash ini berlaku atas keumumannya berdasarkan kesepakatan kaum muslimin (Lihat syarah Muslim li al-Nawawi, no. 326)

    Sedangkan dakwah Islam yang diserukan akan membawa kebaikan bagi masyarakat, jika mereka menerima dan mengamalkannya. Allah Ta’ala berfirman,

    وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

    Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

    Satu contoh yang sangat jelas telah disampaikan oleh Nabi Nuh kepada kaumnya, “Maka aku (Nuh) katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS. Nuh: 10-13)

    Pada ringkasnya, bahwa dakwah Islam apabila diterima akan membawa keberkahan dan kemakmuran. Sebaliknya, jika diingkari dan didustakan maka yang akan terjadi adalah keburukan dan musibah. Maka keburukan dan musibah tersebut bukan karena dakwah, tapi karena kemaksiatan kepada Allah dan keingkaran terhadap ajaran-ajaran-Nya.

    Allah Ta’ala berfirman,

    وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

    Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Al-Syuura: 30)

    ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu mengatakan,

    مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

    Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

    Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

    Ibnu Rojab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa karena semua musibah, itu semua disebabkan karena dosa.” (Latha’if Ma’arif, hal. 75)

    . . . dakwah Islam apabila diterima akan membawa keberkahan dan kemakmuran. Sebaliknya, jika diingkari dan didustakan maka yang akan terjadi adalah keburukan dan musibah.

    Sesungguhnya sikap jujur mengakui banyaknya penyimpangan dari syariat Allah di negeri ini adalah yang terbaik. Sehingga tumbuh keinginan bertaubat dan memperbaiki diri. Karena dengan taubat seberapa besar dosa akan bisa dimaafkan, dan bencana akan bisa dihindarkan. Karena itu Allah perintahkan setelah menasihatkan agar jangan berputus asa dari rahmat-Nya,

    وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ () وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

    Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).  Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Zumar: 54-55)

    . . . sikap jujur mengakui banyaknya penyimpangan dari syariat Allah di negeri ini adalah yang terbaik. Sehingga tumbuh keinginan bertaubat dan memperbaiki diri.

    Penutup

    Tuduhan paranormal Permadi bahwa Raja Demak, Raden Patah merupakan penyebab terjadinya musibah letusan Gunung Merapi, karena telah mendakwahi ayahnya untuk masuk Islam, adalah tuduhan yang tidak berdasar. “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am: 116)

    Tuduhan yang dilontarkan itu tidaklah berbeda subtansi dengan tuduhan Fir’aun kepada Musa dan tuduhan kaum yang ingkar kepada para rasul yang diutus kepada mereka. Hal itu muncul karena kurangnya iman kepada takdir Allah dan kejahilan akan sebab-sebab yang mengundang musibah, yaitu kemaksiatan, kekufuran dan kesyirikan.

    Sesungguhnya Al-Qur’an sudah benyak menerangkan tentang kaum-kaum yang dibinasakan karena dosa-dosa dan keingkaran mereka, sedangkan mereka masih juga menyombongkan diri. Maka marilah menjadi manusia yang cerdas, sehingga bisa mengabil pelajaran dari kejadian-kejadian yang telah berlalu. Secepatnya kita kembali kepada Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai imam dan tuntunan. Jangan lagi Al-Qur’an di taruh di belakang punggung dan mengambil ajaran-ajaran yang keburukannya lebih banyak daripada kebaikannya. Hadanallah wa iyyakum ajma’in!! (PurWD/voa-islam.com)

    Tulisan Terkait:

    1. Pelajaran dari Gempa Sumbar: 'Surau dah Runtuh'

    2. Nasehat Ulama Dalam Menghadapi Musibah

    3. Nikmat dan Musibah Terbesar Menurut Islam

     

    Share this post..

    Selengkapnya

     
    Demo: Sarana Menghidupkan Sunnah Merealisasikan Tujuan Syariah Bagaimana sebenarnya kedudukan mudhaharah (aksi masa) untuk menyuarakan kebenaran atau menolak kebatilan? Karena di tengah-tengah umat ada yang melarang dan menuduhnya sebagai bid'ah....
    Demo: Sarana Menghidupkan Sunnah Merealisasikan Tujuan Syariah

    Oleh: Badrul Tamam

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjelaskan petunjuk kepada umat manusia melalui ayat-ayat Qur’an dan sunnah Nabi-Nya dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk Rasulullah yang memperjuangkan kebenaran, menolongnya dan terus menyeru umatnya untuk memperjuangkan Dienullah hingga hari kiamat, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.

    Menyampaikan kebenaran merupakan kewajiban bagi umat muslim, khususnya pada zaman sekarang ini, dimana kejahatan dan kezaliman begitu luar biasa. Sedangkan umat yang jumlahnya besar ini dalam posisi yang tertindas dan lemah secara politik. Akibatnya, sendirian memaklumatkan kebenaran beresiko tinggi dan kurang mengena. Sehingga perlunya kerja kolektif dan aksi masa untuk menyuarakannya, seperti mudhaharah, show of force, ataupun menyampaikan tuntutan secara bersama.

    Sebenarnya dalam syariat Islam kita (umat Islam) sudah dibimbing untuk melakukan mobilisasi masa, seperti dalam shalat Ied. Pada ibadah tahunan tersebut, umat Islam disunnahkan untuk keluar dan berkumpul di tempat terbuka. Bukan saja bagi yang disyariatkan shalat, orang-orang yang tidak wajib atau tidak disunnahkan shalat juga diperintahkan untuk ikut keluar supaya memperbanyak jumlah umat Islam. Di samping sebagai syi’ar ke-Islaman, juga sarana merayakan kesenangan mereka. Maka kenapa kita (umat Islam) tidak bersatu bersama saudara-saudara seiman untuk menyampaikan kebenaran dan menolak segala bentuk kezaliman, khususnya yang berkaitan dengan ajaran dien kita seperti aksi masa untuk menuntut pembubaran Ahmadiyah yang mengacak-acak dan membajak ajaran Islam.

    Kalau semua umat Islam Indonesia ini bersatu padu menyuarakan pembubaran Ahmadiyah, maka kekuatan tuntutan akan lebih besar. Dan pastinya, suara tersebut akan lebih diperhitungkan. Nilai preseur bagi pemerintah ini tentu lebih kuat, sehingga harapan umat agar kelompok yang menista kesucian ajaran Islam ditindak tegas dan dilarang dapat terealisir.

    Demo: Sarana Menghidupkan Sunnah Merealisasikan Tujuan Syariah

    Perlu diakui, bahwa umat Islam dalam kondisi yang lemah. Tidak ada kekuatan politik, militer dan persenjataan untuk melindungi ajaran Islam. Karena memang kepentingan negara ini bukan untuk menegakkan Islam. Namun kita masih punya leher, tubuh dan lisan untuk menyatakan penolakan terhadap ketidakadilan dan menodaan terhadap Islam. Maka inilah usaha minimal yang bisa kita perbuat.

    Sungguh tidak pantas di saat umat tidak menguasai persenjataan, ekonomi, pemerintahan, dan tokoh-tokoh yang bisa membela kehormatan Islam dan kaum muslimin, dan tidak tersisa kecuali suara dan tuntutan, lalu mereka tidak juga melakukan. Sungguh aneh dalam kondisi seperti ini ada sebagian umat yang menyerukan bakhil terhadap suara dan melarang umat menuntut hak mereka dengan aksi masa.

    Sungguh aneh sekali, di zaman penuh kebodohan dan kelaliman ini, ada sebagian kelompok umat Islam yang menunggu fatwa dari pemimpin zalim agar diizinkan mengingkari perbuatannya dan menunggu izin musuh untuk menolak segala kejahatannya.

    Sungguh aneh sekali, di zaman penuh kebodohan dan kelaliman ini, ada sebagian kelompok umat Islam yang menunggu fatwa dari pemimpin zalim agar diizinkan mengingkari perbuatannya dan menunggu izin musuh untuk menolak segala kejahatannya. Padahal aksi masa merupakan bagian dari sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, disepakati akal sehat, dan menjadi tradisi para ulama salaf. Sehingga mereka hanya bisa berteriak di kelompok pengajiannya tentang kesesatan Ahmadiyah dan kekurangajarannya, setelah itu mereka kembali ke rumahnya dan duduk bersama anak istrinya. Di mana bentuk pengingkaran mereka terhadap kesesatan? Di mana bentuk kecemburuan mereka terhadap dien mereka yang sudah diobok-obok dan dibajak?

    Berikut ini kami terangkan beberapa penjelasan untuk meluruskan paham orang yang menolak aksi masa dalam menyuarakan kebenaran dan menuntut dihinakannya kebatilan, salah satunya pembubaran dan pelarangan kegiatan Ahmadiyah di negeri mayoritas muslim ini.

    Di saat suara tidak didengar kecuali bila didengungkan bersama-sama, maka menyuarakan kebenaran juga harus dilakukan serempak. Keluar bersama-sama untuk menunjukkan banyaknya masyarakat yang menuntut dan besarnya jumlah yang bersuara sangat dibutuhkan. Menurut Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, aksi masa (mudhaharah/demo) pernah dijadikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai sarana untuk memperjuangkan Islam dan mendakwahkannya. Seperti yang diriwayatkan, kaum muslimin sesudah masuk Islamnya Umar radhiyallahu 'anhu, mereka keluar dengan perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam dua barisan (untuk menunjukkan kekuatan). Salah satunya diketuai oleh Hamzah, dan di barisan satunya lagi diketuai Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu. Saat itu mereka sangat percaya diri sehingga mereka masuk masjid.

    Telah diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dengan sanad yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, di dalamnya disebutkan: Bahwa Umar bin Khathab pernah berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, “Wahai Rasululullah, bukankah kita ini berada di atas kebenaran walaupun kita mati atau tetap hidup? Beliau menjawab, “Benar, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kalian berada di atas kebenaran walau kalian mati atau hidup.” Lalu Ibnu Abbas berkata, “Lalu kenapa kita harus sembunyi-sembunyi? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, engkau harus keluar.” Lalu beliau memerintahkan kita keluar dalam dua barisan: Hamzah di salah satunya, sedangkan aku berada di barisan yang lain sehingga kami masuk masjid.” Lalu Umar menuturkan, babwa saat itu, kaum Quraisy tertimpa depresi (ketakutan) yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Sejak saat itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggelari Umar dengan al-Faruq. Karena dengan melalui beliau, Allah memisahkan antara yang hak dan yang batil. (Lihat: Hilyah al-Auliya’: 1/40, al-Ishabah: 2/512, Fathul Baari: 7/59)

    Sebenarnya, bukti yang menguatkan absahnya aksi masa dalam menyuarakan kebenaran untuk keagungan Islam telah ditunjukkan oleh syi’ar dan syariatnya. Salah satunya shalat berjama’ah, shalat Jum’at, dan shalat dua hari raya. Bahkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada para wanita haid dan dalam pingitan untuk tetap menghadiri tempat shalat Ied dengan tujuan, “Agar mereka menyaksikan kebaikan dan dakwah (khutbah) kaum muslimin.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, no. 1136) Kebaikan yang disaksikan di sini adalah banyaknya kaum muslimin dan menampakkan syi’ar keislaman.

    Sesungguhnya keterangan-keterangan di atas mengarah pada satu tujuan, yaitu menampakkan ‘izzah (kemuliaan) Islam dan memperbanyak jumlah kaum muslimin. Dan bab ini bagian dari dakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

    Sesungguhnya perkumpulan besar kaum muslimin di satu tempat, seperti shalat berjama’ah, shalat Jum’at, shalat ‘Ied untuk menunjukkan banyaknya orang yang memperoleh petunjuk dan besarnya jumlah kaum muslimin. Sunnah ini juga berlaku dalam peperangan, banyaknya jumlah personil dan lengkapnya persenjataan militer bisa membuat ciut nyali musuh dan menakut-nakuti musuh-musuh Allah serta bisa meninggikan kemuliaan Islam.

    Sesungguhnya kedudukan aksi masa atau protes masa (mudhaharah/demo) adalah bagian dari sarana. Dan asal hukum sarana adalah mubah. Dia mengikuti hukum tujuan/maksud yang ingin direalisasikan, jika itu baik maka hukumnya baik, begitu juga sebaliknya. Dan tujuan aksi bersama yang dilakukan kaum muslimin untuk memperjuangkan kebenaran, menolak kezaliman, menyingkap kedok dan kepentingan penguasa, membuka mata masyarakat, dan meluruskan opini mereka adalah bagian dari kebaikan dan dakwah. Bahkan bagian dari jihad yang paling utama, “Jihad paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan raja atau pemimpin yang lalim.” (HR. Abu Dawud dan lainnya dari Abu Sa’id al-Khudri. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam al-Shahihah, no. 491)

    Aksi demonstrasi juga pernah dilakukan seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan mendapat restu darinya. Pernah ada seseorang mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengadukan tetangganya. Lalu beliau menyuruhnya untuk menaruh perabot rumahnya di jalan. Lalu dilaksanakan nasihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tadi. Maka setiap orang yang melewatinya bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?” Dia menjawab, “Tetanggaku mengganggu/menyakitiku.” Lalu orang yang lewat tadi mendoakan keburukan bagi tetangganya tadi. Kemudian datanglah tetangganya tadi kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberitahukan kondisinya, maka beliau bersabda, “Sungguh Allah telah melaknatmu sebelum manusia.” Kemudian dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Kemudian datanglah orang yang mengadu tadi kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau menyuruh untuk mengambil perabotnya. (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Bazzar dengan sanad Hasan)

    Musuh-musuh Islam menebarkan syubhat di tengah-tengah masyarakat muslim, bahwa perbuatan tersebut sebagai tindakan haram, kegiatan para pemberontak, dan tasyabuh terhadap orang kafir.

    Jika umat Islam terkena syubhat tersebut, maka padamlah perlawanan kepada kebatilan.

    Musuh-musuh Islam menyadari bahwa aksi masa dan mudhaharah bagian dari strategi perang. Bahkan saat sekarang ini menjadi senjata yang paling menentukan. Mereka sangat khawatir akan kebangkitan umat Islam melalui aksi masa. Sehingga mereka menebarkan syubhat di tengah-tengah masyarakat muslim, bahwa perbuatan tersebut sebagai tindakan haram, kegiatan para pemberontak, dan tasyabuh terhadap orang kafir. Jika umat Islam terkena syubhat tersebut, maka padamlah perlawanan kepada kebatilan.

    Pada ringkasnya, bahwa aksi bersama untuk menyuarakan kebenaran dan menentang kebatilan merupakan sunnah yang disyariatkan dan senantiasa dibutuhkan. Allah telah menetapkannya sebagai sarana untuk menunjukkan keingkaran terhadap prilaku bejat, jahat dan merusak dalam firman-Nya,

    وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

    Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Nuur: 2)

    Pada ringkasnya, bahwa aksi bersama untuk menyuarakan kebenaran dan menentang kebatilan merupakan sunnah yang disyariatkan dan senantiasa dibutuhkan.

    Aksi masa juga disunnahkan untuk merayakan hari raya, menyambut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, saat melepas pasukan dan merayakan kehadiran mereka. Aksi masa tersebut bertujuan untuk menunjukkan kekuatan umat Islam sehingga musuh atau pihak-pihak tertentu gentar dan ciut nyali sehingga tidak berani menghinakan Islam dan membea kebatilan. Aksi masa ini telah membuahkan hasilnya, seperti yang diakui Abu Sufyan sebelum memeluk Islam. Saat dia melihat besarnya jumlah umat muslim, maka dia tidak lagi berpikir membuat makar untuk melawan Islam.

    Maka jika saat ini umat Islam tidak menunjukkan aksi masa yang menampakkan besarnya jumlah dan persatuan mereka untuk menuntut hak-hak umat muslim, maka apa yang akan tersisa? Maka menampakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan dengan segenap sarana yang ada (mubah) telah dibenarkan oleh beberapa nash yang disebutkan di atas. Bahkan itu bagian dari sunnah yang ditegakkan oleh Islam. Wallahu Ta’ala a’lam.

    Share this post..

    Selengkapnya

     
    Powered by Tags for Joomla
    Copyright © 2009 Alumni SMAN 1 Gunung Talang. All Rights Reserved. | Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License
    Website Alumni SMAN 1 Gunung Talang - Cupak, Solok disiapkan oleh bpiliang | Template by JoomlaPraise