Mengenal Allah SWT

Penulis : Ida Jubaidah

Ibnul Qayyim mengatakan,”Sesungguhnya dalam hati terdapat sebuah sobekan yang tidak bisa dijahit kecuali dengan menghadap penuh kepada Allah SWT. Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tak mampu diobati kecuali dengan menyendiri bersama Allah. Di dalam hati juga ada sebuah kesedihan yang tidak mampu diseka kecuali oeh kebahagiaan yang tumbuh karena mengenal Allah dan ketulusan berinteraksi denganNya. Di dalam hati juga terdapat sebuah kegelisahan yang tidak mampu ditenangkan kecuali dengan berhimpun karena Allah dan pergi meninggalkan kegelisahan itu menuju Allah. Di dalam hati juga terdapat gejolak api yang tidak mampu dipadamkan kecuali oleh keridhaan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah, yang diiringi dengan ketabahan dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan denganNya.”

Pernahkah sahabat merasakan makna-makna spiritual ini sebelumnya? Di dalam hati ada sobekan, keterasingan, kesedihan, kegelisahan, dan gejolak api. Ada beragam penyakit yang obatnya tidak lain adalah “mengenal Allah”!

Ibnul Qayyim mengatakan, ”Ketika orang lain bergantung pada dunia, gantungkanlah dirimu hanya kepada Allah. Ketika orang lain merasa gembira dengan dunia, jadikanlah dirimu gembira karena Allah. Ketika orang lain merasa bahagia dengan kekasih-kekasih mereka, jadikan dirimu merasa bahagia dengan Allah. Dan ketika orang-orang pergi menghadap raja-raja dan pembesar-pembesar mereka untuk mengais harta dan mencintai mereka, jadikan dirimu betul-betul mencintai Allah.”

Sungguh, sahabat, beberapa nilai spiritual yang telah dijelaskan dengan gamblang oleh beliau, ketahuilah, setiap kali hati ini mampu menangkap makna-makna itu dengan baik, setiap kali pula hati ini akan bersinar cerah, jiwa dan batin ini pun berseri bahagia. Kata-kata yang muncul dari dalam sanubari dan keluar meluncur dengan kuat. Seluruh perasaan dan kepekaan berhimpun dan bergejolak membuat hati bahagia. Apakah kita bisa namakan seluruh gejala ini ini dengan yang bernama “kecerahan hati”?

Beliau juga mengatakan, ”Jangan pernah putus asa untuk teguh menunggui gerbang meski engkau terusir. Jangan pernah berhenti untuk memohon ampunan meski engkau tertolak. Begitu gerbang telah terbuka, segeralah masuk selayaknya seorang tamu tak diundang. Kemudian tengadahkan tanganmu di gerbang dan segeralah berkata : Tolonglah, saya adalah orang miskin. Bersedekahlah untuk saya!”

Sahabatku, selami lagi betul-betul maknanya. Ketahuilah, lautan ini amat dalam dan mutiaranya terletak di dasar yang paling dalam. Jangan pernah putus asa menunggui gerbang meskipun terusir! Kita ingin menangis ketika shalat, tapi tidak bisa. Kita ingin meraih khusyu, tapi kita tidak tahu bagaimana caranya. Jangan pernah berhenti dan berpatah harapan.

Jangan pernah berhenti untuk memohon ampunan meskipun tertolak! Dan begitu gerbang terbuka, segerah masuk selayaknya seorang tamu tak diundang! Teruslah bersama orang-orang yang rajin membaca dan merenungi Al-Qur'an.

Sungguh, kata-kata ini di dalam hati berubah menjadi nyawa, hati pun menjadi hidup. Katakan dengan jujur, kapankah terakhir kali kita merasa khusyu menghadap Allah? Kapankah terakhir kali bersujud memohon kepada Allah agar kemanisan rasa khusyuk ini tidak pernah akan berakhir?

Saudaraku tercinta, mari kita siapkan diri kita untuk meraih nilai-nilai ini. Sebab hal seperti ini tidaklah mustahil, tempatkan dan hormati kekhusyukan sebagaimana mestinya.


Tags

 
Copyright © 2009 Alumni SMAN 1 Gunung Talang. All Rights Reserved. | Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License
Website Alumni SMAN 1 Gunung Talang - Cupak, Solok disiapkan oleh bpiliang | Template by JoomlaPraise